Rabu, 22 Juli 2020

" MANUSIA SPBU "


Sabtu, 18 Juli 2020 saya mengikuti webinar Teras PPA yang diselenggarakan oleh PPA Institut, dengan tema "Manusia SPBU" yang di bawakan oleh Kang Helmy (Co Founder PPA Institute). 

SPBU singkatan dari Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum atau biasa dikenal dengan istilah pertamina. Salah satu tagline dari SPBU yang terkenal adalah kembali ke nol. Berbicara mengenai "Manusia SPBU", atau disebut manusia gagal/ manusia yang kembali ke titik nol. Seringkali kita melakukan ikhtiar untuk mendapatkan kesuksesan namun ujung-ujungnya selalu mengalami kegagalan, atau kata kiasnya kembali ke titik nol.

Hidup adalah suatu perjalanan. Dalam perjalanan tersebut ada banyak suka maupun duka yang kita alami. Kadang di atas kadang di bawah. Misalnya, ketika manusia berada dalam suatu puncak kesuksesan, dan seketika kesuksesan tersebut di ambil kembali oleh pemilik-Nya, maka seketika manusia menjadi tidak berdaya. Begitupun ketika kita sudah berikhtiar untuk suatu pekerjaan/usaha, namu tiba-tiba gagal di tengah jalan, maka kita akan kembali ke titik nol.

Manusia seringkali mengeluhkan apa yang terjadi dalam hidupnya, namun terkadang kita tidak menyadari segala masalah, musibah, ujian, cobaan, nikmat yang Allah berikan kepada kita terdapat pesan cinta didalamnya. Tanda-tanda yang Allah berikan sering kali kita hiraukan. 

Ketika menginginkan sesuatu, kita berdoa siang malam, berikhtiar secara maksimal, tetapi ternyata Allah memberikan kita ujian dalam ikhtiar tersebut, apa yang harus kita lakukan??????Apakah kita harus menyerah ??? atau menjadi orang cerdas yang mampu membaca pesan cinta-Nya ??? Agar kita tidak menjadi "Manusia SPBU".

Sebagaimana firman allah dalam Surah Al-Imran ayat 190 yang artinya “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. Firman ini adalah pelajaran bagi kita dalam ikhtiar anti gagal sehingga kita tidak menjadi manusia SPBU.

Dari pada kita sibuk mencari bagaimana cara agar bisa sukses/bangkit, lebih baik kita mencari kenapa kita tidak bisa sukses/bangkit, karena jika kita mengetahui kenapa pasti kita akan tau bagaimana??? Tutur Kang Helmy dalam webinar tersebut. Adapun ikhtiar anti gagal menurut beliau adalah dengan membaca pesan cinta dari-Nya, dengan istiqamah berikhtiar dengan 3 L (Lapor, Latih dan Lingkungan). Pertama, melaporkan segalanya hanya kepada Allah, dengan zikir, shalat dan sedekah. Menurut kang Helmy, jangan pernah berzikir yang tidak nyambung dengan hati, jangan melakukan ikhtiar yang dapat mengganggu shalat, dan menyisihkan sebagian rezeki meski dalam keadaan lapang maupun sempit. Kedua, melatih diri untuk terus melakukan ikhtiar secara maksimal dengan terus melibatkan Allah dalam ikhtiar tersebut. Selalu melibatkan Allah dalam segala hal, sebesar atau sekecil apapun masalah yang kita hadapi yang utama adalah mencari Ridha-Nya., Ketiga, lingungan yang kondusif adalah salah satu faktor pendukung agar kita dapat menjadi manusia anti gagal. Karena ketika kita berada pada lingkungan yang baik akan mendukung kita berproses kearah yang baik. Seperti kata pepatah jika kita berteman dengan penjual parfum bisa saja kita ikut kecipratan wanginya, tetapi ketika kita berteman dengan pandai besi bisa saja kita ikut kecipratan apinya.

Tugas kita bukan hanya untuk memahami pesan cinta dari-Nya, akan tetapi kita dapat mengaplikasikan, mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat menjadi solusi dari setiap permasalahan yang menimpa kita, sehingga kita tidak menjadi manusia SPBU. Wallahu A’lam Bishawab.

 

Bone, 22 Juli 2020

(Rina Novianty)

 

 


Rabu, 15 Juli 2020

Era New Normal : Manjadi Tenaga Pendidik yang Kreatif


Tenaga pendidik adalah ujung tombak dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Selama terjadinya pandemi pemerintah terus berupaya menciptakan kreasi bagi para peserta didik, tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan melalui kebijakan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah program kebijakan baru yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bapak Nadiem Anwar Makarim, dimana esensi kemerdekaan berpikir menurut beliau harus didahului oleh para tenaga pendidik sebelum mereka mengajarkan kepada para peserta didik. Salah satu poin penting dalam kebijakan tersebut adalah mas menteri menginginkan agar para tenaga pendidik membuat desain belajar di kelas lebih sederhana dengan menyesuaikan dengan kondisi peserta didik.

Di era new normal ini para tenaga pendidik di tuntut untuk melakukan kreasi di dalam kegiatan belajar mengajar meskipun dalam kondisi yang berbeda dari sebelum adanya pandemi. Agar proses pembelajaran tetap berlangsung secara efektif, seperti pada proses pembelajaran tatap muka di kelas, tenaga pendidik di tuntut untuk bisa memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi demi kelancaran proses belajar mengajar.

Kreativitas tenaga pendidik sangat diperlukan dalam menghadapi era new normal. Tenaga pendidik harus bisa melakukan transformasi pembelajaran dari luring menjadi daring. Kelas tidak lagi menjadi satu-satunya tempat untuk mentransfer pengetahuan. Saatnya mengajak peserta didik untuk mengeksplorasi apa yang ada disekitar mereka dan terjun langsung ke tempat-tempat yang dapat menjadi sumber pengetahuan. Tuntutan atas kreativitas tenaga pendidik sejalan dengan tugas dan tanggung jawab atas profesinya. Kreativitas seorang tenaga pendidik akan terlihat dalam tugasnya terutama dalam proses belajar mengajar.

Seiring perkembangan zaman, pendidikan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Memasuki era digital proses pembelajaran berbeda dengan sebelumya terlebih setelah adanya virus corona melanda seluruh dunia memaksa tenaga pendidik melakukan perubahan proses pembelajaran secara cepat. Di era new normal, teknologi digital sangat diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran tetap berlangsung secara efektif. Seiring berjalannya waktu, kemajuan teknologi memberikan berbagai kemudahan dalam berbagai aktivitas, termasuk dalam proses pembelajaran. Akan tetapi perubahan tersebut tidak disertai dengan kesiapan seluruh elemen yang terlibat dalam proses belajar mengajar terutama dalam hal ini tenaga pendidik dan peserta didik.

Peralihan proses pembelajaran dari luar jaringan menjadi dalam jaringan memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur tersebut agar proses pembelajaran tetap terlaksana seperti biasanya. Para pelaku pendidikan dituntut untuk memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran sebenarnya bukan tanpa masalah, banyak faktor yang menghambat pelaksanaan proses pembelajaran tersebut diantaranya penguasaan teknologi yang masih rendah bagi sebagian tenaga pendidik maupun peserta didik, jaringan internet yang tidak merata, keterbatasan sarana dan prasarana, serta biaya.

Sabtu, tanggal 04 Juli 2020, saya mengikuti salah satu bimtek online dengan tema “Mengelola Pembelajaran yang Asik di Tengah Pandemi Covid-19” yang dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Enrekang dengan menghadirkan pemateri Bapak Masruhan Mufid, M.Kom., beliau adalalah salah satu Praktisi Pendidikan dan Youtuber Profesional. Menurut beliau dimasa inkubasi atau di tengah pandemi ini banyak tenaga pendidik yang latah dengan berbagai aplikasi online yang dapat dimanfaatkan selama pembelajaran daring (online). Pendidikan bukan lagi transfer pengetahuan melainkan transfer tugas. Target utama pendidikan menurut beliau adalah keberlangsungan pendidikan dan meningkatnya kualitas dan kompetensi tenaga pendidik dalam pembelajaran terutama dalam pembelajaran daring. Seorang tenaga pendidik harus menjadi tenaga pendidik yang kreatif terutama di masa pandemi, terlepas dari berbagai masalah atau tantangan yang terjadi. Proses pembelajaran selama daring harus tetap di setting seperti pada proses pembelajaran tatap muka dikelas, yang berbeda hanya pada perubahan “kelas nyata menjadi kelas maya”. Pada proses pembelajaran di era new normal dengan menggunakan kelas maya (online), tetap ada pertemuan setiap pekannya, namun yang membedakan dengan kelas sebelum pandemi terjadi adalah tenaga pendidik dan peserta didik bertemu secara virtual. Disinilah diperlukan kompetensi tenaga pendidik dalam menghidupkan kelas virtual/maya tersebut. Tenaga pendidik harus kreatif agar proses pembelajaran berlangsung seperti biasanya.

Kelas maya dapat dilakukan dengan memanfaatkan Learning Management System (LMS) yang tersedia secara gratis seperti Google Classroom, Moodle, Edmodo, Microsoft Teams, Schoology dan aplikasi lainnya. Ketika kelas maya telah di buat, bagaimana proses pembelajaran di kelas maya tersebut???Apakah selama ini kita telah melaksanakan proses pembelajaran dengan baik??? Pertanyaan ini harus kita jawab bersama!!!

Jika selama ini, sebelum terjadinya pandemi proses pembelajaran berlangsung di kelas (luring), akan tetapi selama pandemi dan menuju new normal, proses pembelajaran berlangsung secara virtual dengan memanfaatkan aplikasi video conference (vicon) seperti: Cisco Webex (https://www.webex.com/), Zoom (https://www.zoom.us/), Google Meet (https://meet.google.com/), dan berbagai aplikasi lainnya. Namun, realita yang terjadi menimbulkan berbagai masalah seperti memerlukan kuota yang banyak untuk melakukan vicon, susah signal, smartphone/Laptop  dengan spek rendah dan permasalahan lainnya, sehingga kurang efektifnya proses pembelajaran di kelas maya tersebut.

Lebih lanjut Bapak Mufid menjelaskan, permasalahan tersebut dapat diatasi jika seorang tenaga pendidik mampu memanfaatkan teknologi dengan baik, dan lebih kreatif dalam mengelola pembelajaran di kelas maya tersebut. Untuk mengelola pembelajaran di kelas agar berlangsung secara efektif diperlukan kompetensi tenaga pendidik.  Menurut beliau salah satu solusi mengatasi kendala signal yang kurang baik, atau permasalahan smartphone/laptop memiliki bandwith yang kecil yaitu dengan membuat video pembelajaran dengan menggunakan teknik rekam layar. Ada banyak teknik rekam layar yang dapat digunakan seperti Faststone (https://youtu.be/c-3QxLDJ6X4), Bandicam (https://youtu.be/EcTYzYpq7TY), Camtasia (https://youtu.be/Xqr3YrQV2qY), dan masi banyak aplikasi lainnya.Teknik rekam layar layar tersebut dapat memudahkan tenaga pendidik dalam menjelaskan materi pembelajaran tanpa menggunakan vicon yang menguras banyak kuota dan dapat digunakan untuk mengatasi kendala signal karena materi pembelajaran di buat dalam bentuk video pembelajaran. Lebih lanjut mengenai aplikasi rekam layar dari pemateri bimtek tersebut dapat dilihat di http://bit.ly/mufids.

Di era new normal, agar proses pembelajaran tetap berjalan sebagaimana biasanya, transformasi pengetahuan tetap terjadi meskipun dengan memanfaatkan kelas virtual, maka tenaga pendidik harus meningkatan komptensinya dengan menciptakan kreasi sehingga proses pembelajaran tetap berlangsung secara efektif, meskipun ditengah keterbatasan yang ada. Menjadi tenaga pendidik bukan hal yang mudah, membutuhkan banyak pengorbanan baik dari segi tenaga, watu, materi, pikiran maupun perasaan. Namun itulah perjuangan, karena dibalik perjuangan tersebut tersimpan berjuta kebahagiaan yang tidak dapat di nilai dengan materi.

 

Bone, 15 Juli 2020

(Rina Novianty)


Rabu, 08 Juli 2020

MENULIS itu MUDAH


Berbicara mengenai dunia menulis, mungkin banyak orang yang berpendapat bahwa menulis itu sulit, termasuk saya sendiri yang menganggap bahwa menulis adalah sesuatu yang membutuhkan keahlian tersendiri yang tidak semua orang memilikinya. Tetapi setelah saya bergabung dengan grup menulis dan mulai berkenalan dengan dunia blogging, akhirnya sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan dunia menulis, meskipun tulisan saya masih berupa tulisan-tulisan sederhana.

Menulis sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja, syaratnya adalah adanya kemauan dan mulai praktek untuk menulis. Seperti saya yang sebelumnya tidak pernah menyangka sama sekali akan menulis di blog ini, akan tetapi setelah memutuskan membuat blog, mau tidak mau saya harus mulai praktek menulis. Dengan adanya blog ini memotivasi saya untuk menulis minimal satu tulisan setiap pekannya. Dari sinilah timbul keinginan untuk belajar, meskipun saya sendiri tidak tahu apakah tulisan yang saya buat enak di baca atau tidak, bermanfaat atau tidak. Semuanya tergantung dari penilaian pembaca. Setidaknya dengan mebuat tulisan di blog setiap pekan, akan menjadikan suatu kebiasaan. Seperti halnya keahlian lain, jika sering dilatih maka akan semakin mahir, begitu juga dengan kegiatan menulis. Semakin sering anda praktek menulis, maka semakin terbiasa anda menulis. Seperti kata pepatah ala bisa karena biasa.

Kamis, tanggal 25 Juni 2020 saya mengikuti salah satu workshop online yang dilaksanakan oleh Mutakhir Academy dengan tema Trik Jitu Bikin Buku: From Zero to Zorro. Dari tema tersebut kelihatan menarik. Menurut pemateri ada empat mitos sehingga orang enggan menulis yaitu, pertama karena tidak punya bakat. Bakat menurut KBBI adalah dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang dibawa sejak lahir. Ada orang yang memang memiliki bakat merangkai kata demi kata sehingga menghasilkan tulisan yang menarik untuk di baca. Kedua, tidak ada waktu. Bagi orang-orang yang tidak terbiasa menulis, selalu menjadikan waktu sebagai alasan. Ketiga, malu menulis. Malu ketika tulisannya di kritik oleh orang lain, atau merasa tidak percaya diri ketika tulisannya di baca orang lain. Keempat, adalah takut salah. Saya merasa keempat mitos tersebut nyata bagi saya pribadi. Selama ini kebanyakan berpikir ingin menulis tapi jarang praktek menulis.

Sebelumnya, saya teringat dengan materi yang pernah dibawakan oleh Bapak Dr. Ngainun Naim di acara Diskon (Diskusi Online) yang dilaksanakan oleh LPPM IAIN Ponorogo bahwa berapa kalipun anda ikut pelatihan/workshop tentang menulis, sebanyak apa pun buku tentang menulis yang anda baca, hal tersebut tidak akan membuat anda menjadi seorang penulis, KECUALI anda memaksakan diri untuk praktek menulis.

Bapak Naim adalah salah satu dosen di IAIN Tulungagung, beliau adalah salah satu provokator handal dalam dunia literasi, beliau yang selalu memotivasi kami anggota grup menulis untuk praktek menulis. Salah satunya dengan menulis di blog. Menulis di blog adalah salah satu cara praktek menulis. Selain memberikan motivasi menulis, beliau juga rutin mengirimkan tulisan-tulisan dari blog beliau ke grup menulis. Setiap kali membaca tulisan beliau yang di kirim di grup wa, selalu membangkitkan motivasi saya untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Salah satu tulisan beliau yang berjudul kunci dan alasan membuat saya semakin tersadar bahwa sebanyak apa pun ide/gagasan yang kita miliki jika tidak dituangkan tidak akan mungkin menjadi suatu tulisan. Beliau mengatakan kunci utama dalam menulis yaitu praktek menulis dan hambatan menulis itu satu yaitu ALASAN. Karena berbagai alasan inilah yang menghambat seseorang untuk menulis. Ada saja alasan yang dijadikan sebagai hambatan untuk menulis. Alasan sibuk, alasan tidak ada waktu dan berbagai alasan-alasan yang bermunculan yang membuat menulis hanya sebatas keinginan tanpa adanya praktek menulis.

Sejak memberanikan diri praktek menulis, terkadang muncul rasa malu, ketika tulisan di baca oleh orang lain. Menurut bapak Naim ada empat level malu dalam menulis. Pertama, malu untuk mulai menulis, karena rasa malu inilah yang membuat seseorang tak kunjung menulis. Banyak orang yang memiliki kemauan untuk menulis tapi tidak kunjung menulis karena adanya rasa malu tersebut. Rasa malu tersebut menjadi faktor penghambat sehingga sesorang tak kunjung menulis. Level malu kedua menurut bapak ini sudah lebih baik dari level pertama. Karena pada level ini seseorang sudah mulai menulis, namun muncul rasa malu jika tulisannya di baca oleh orang lain. Malu level ketiga ini sudah lebih baik dari level satu dan dua karena pada level ini adalah menulis tanpa rasa malu. Apapun tanggapan orang lain tentang tulisan kita dijadikan sebagai masukan. Jika di puji akan menambah motivasi, sebaliknya jika di kritik di jadikan pembelajara untuk tulisan berikutnya. Malu level keempat adalah malu jika tidak menulis. Menurut bapak malu level inilah yang tertinggi. Karena jika seorang penulis sudah sampai pada level ini, maka menulis seperti suatu kebutuhan. Jika tidak menulis maka terasa kehilangan sesuatu.

Setalah membaca tulisan tersebut saya merasa masih berada pada level ke dua. Terkadang ketika menulis ada rasa malu merasuki. Tetapi rasa malu tersebut berubah menjadi motivasi ketika melihat orang lain memberikan apresiasi pada tulisan yg di buat, terlebih jika tulisan tersebut memberikan manfaat dan inspirasi bagi orang yang membacanya. Seperti kata pepatah kalau orang lain bisa mengapa kita tidak!!! MENULIS itu MUDAH!!! Yang sulit adalah jika kita hanya berpikir ingin menulis tapi tidak pernah memulai untuk menulis. Selama ini kita kebanyakan berpikir ingin menulis tapi tidak kunjung memulai. 

MENULIS itu MUDAH, tinggal mengambil pulpen kemudian menuangkannya di kertas, atau tinggal membuka laptop/smartphone, kemudian mulailah menulis. Bukankah suatu rangkaian kata dimulai dari rangkaian huruf, rangkaian kalimat dimulai dari rangkaian kata-kata. Jika bukan sekarang menulisnya, kapan lagi??? Jika sudah terbiasa menulis, segala kesulitan akan hilang dengan sendirinya, tutur Bapak Naim dalam salah satu diskusi online. Berkat motivasi dari beliau akhirnya tulisan ini bisa tercipta. Mulailah menulis karena MENULIS itu MUDAH. Yang dibutuhkan adalah praktek menulis. Karena sebanyak apapun ide yang kita miliki tanpa adanya praktek menulis mustahil akan mengasilkan suatu tulisan.

Menutup tulisan sederhana ini, mengutip kata-kata bijak dari Stephen King bahwa “Untuk menjadi seorang penulis, yang diperlukan adalah kemauan untuk menulis kemudian mempraktekkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya, maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya”.

 

Bone, 08 Juli 2020

(Rina Novianty)


Rabu, 01 Juli 2020

KIMIA KEBAHAGIAN DALAM MENGHADAPI ERA NEW NORMAL

Sabtu, 27 Juni 2020, saya mengikuti salah satu webinar yang diselenggarakan oleh Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar yang mengangkat tema tentang “Peran Kimia dan Strategi pembelajaran Kimia dalam Menghadapi Era New Normal”. Salah satu materi menarik yang dibawakan oleh Prof. Dr. Muh. Amir Masruhim, M.Kes, Dekan FKIP Universitas Mulawarman tentang peran kimia untuk meraih kebahagiaan dalam menghadapi era new normal. Menurut beliau dengan bahagia kita dapat terhindar dari bebagai macam penyakit, salah satunya penyakit yang diakibatkan oleh virus corona. Lebih lanjut beliau menjelaskan tentang salah satu zat kimia yang berperan penting sebagai pembawa kebahagiaan.  

Zat kimia yang dimaksud adalah hormon. Hormon adalah salah satu zat yang sangat berperan penting dalam tubuh manusia. Hormon dihasilkan oleh organ tubuh tertentu yang berasal dari kelenjar endokrin yang berguna untuk merangsang fungsi organ tubuh tertentu. Hormon memiliki peranan dalam mengendalikan proses yang terjadi dalam tubuh manusia seperti proses metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, dan kekebalan. Manusia adalah makhluk hidup yang bersifat multiseluler yang menghasilkan hormon.

Hormon menjalankan fungsi penting untuk kinerja tubuh mulai dari sistem reproduksi sampai mngendalikan suasana hati. Kebahagiaan bersumber dari banyak hal, salah satunya dari makanan yang di komsumsi. Dari makanan yang di komsumsi serta pola hidup sehat akan mempengaruhi kerja hormon di dalam tubuh. Diantara banyaknya hormon yang diproduksi oleh tubuh ada empat hormon yang dikenal dengan hormon kebahagiaan. Pertama, Hormon Dopamin. Hormon ini biasanya disebut “hormon penghargaan”. Hormon ini berkaitan dengan penghargaan terhadap diri, seperti pemberian motivasi. Hormon ini membuat seseorang merasa senang dan nyaman ketika berhasil memperoleh apa yang diinginkan atau dengan kata lain harapan sesuai dengan kenyataan, misalnya memenangkan suatu lomba, atau pekerjaan yang dilakukan mendapat pujian dari atasan dan hal-hal lain yang bisa membuat seseorang merasa bahagia.

Kedua, Hormon Endorfin. Hormon ini disebut “hormon penghilang rasa sakit”. Hormon ini dapat meredakan gejala stres, marah, sedih, depresi dan semua penyakit hati yang berhubungan dengan tekanan pada perasaan, sehingga membuat seseorang merasa tenang dan lebih mudah untuk mengontrol emosi. Menurut Dr. Shigeo Haruyama dalam Bukunya The miracle of Endhorphin, hormon ini dinamakan “Hormon kebahagiaan”. Hormon ini bereaksi sebagaimana morfin. Dia membuat seseorang merasa rileks, nyaman dan tenang. Jadi dapat dikatakan bahwa hormon endhorfin yang diproduksi oleh tubuh ketika manusia merasa bahagia. Endorfin itu seperti zat yang terkandung di dalam es krim atau coklat, dimana apabila kita mengkonsumsinya akan memberikan kenyamanan. Zat yang membuat nyaman ini juga diproduksi secara alami oleh tubuh guna untuk menstabilkan emosi. Hormon ini muncul saat seseorang merasa bahagia, senang dan mampu mengontrol emosi untuk berlapang dada atau selalu memiliki pikiran yang positif.

Ketiga, Hormon Serotonin. Hormon ini disebut “hormon kepemimpinan”. Hormon ini berkaitan dengan kepercayaan diri dan kebanggaan seseorang. Serotonin diproduksi oleh tubuh ketika seseorang berada di lingkungan dimana mendapatkan suatu dukungan, kepercayaan, pengakuan, dan kenyamanan. Hormon ini dapat membuat seseorang menjadi menyenangkan, mudah bergaul, dan ramah, namun ketika tubuh kekurangan hormon ini menjadi mudah marah, depresi, merasa cemas, kehilangan nafsu makan dan susah tidur.  Hormon ini sangat mengatur mood seseorang dalam segala aktifitas seperti selera makan, motivasi belajar, dan lain sebagainya. Serotonin tidak diperoleh seorang diri, melainkan didapatkan dengan membangun hubungan baik dengan manusia. Seseorang akan merasa lebih percaya diri ketika melakukan sesuatu yang membuat seseorang bangga terhadap dirinya, sehingga membuatnya merasa senang dan bahagia.

Keempat, Hormon Oksitosin. Hormon ini disebut “hormon cinta”. Hormon ini berperan penting dalam tingkah laku manusia. Hormon ini memberikan kebahagiaan kepada seseorang yang menjalin hubungan kepercayaan, kasih sayang dan persahabatan. Hormon ini didapatkan dengan melakukan kontak fisik dengan orang yang disayangi, menjalin ikatan dalam suatu hubungan atau dalam suatu komunitas. Misalnya hubungan antara anak dengan orang tua, dan hubungan antara suami dengan istri. Oksitosin juga dapat diperoleh dengan melakukan kebaikan kepada orang lain, misalnya aktif dalam kegiatan sosial, membantu orang yang mengalami kesulitan, menjadi relawan dalam kegiatan kemanusiaan dan sebagainya.

Agar keempat hormon tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik sehingga memperoleh suatu kebahagiaan, terlebih di era new normal, lebih lanjut  Prof. Dr. Muh. Amir Masruhim, M.Kes menjelaskan ada 5 dimensi yang perlu diperhatikan yaitu: Pertama, Dimensi Fisik. Untuk dimensi fisik secara garis besar dapat dilakukan dengan menjaga dan mengatur pola makan dengan rajin mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, berolahraga secara teratur untuk memperkuat otot, dan tidur yang cukup.

Kedua, Dimensi Pikiran. Untuk mengaktifkan hormon kebahagiaan harus selalu memiliki pikiran yang positif. Karena dengan berpikir positif akan menghindarkan diri dari berbagai penyakit. Karena menurut para ahli sumber penyakit terbesar bukan berasal dari makanan yang kita konsumsi melainkan bersumber dari pikiran. Ketiga, Dimensi Hati. Hati adalalah organ paling inti bagi kehidupan manusia. Hati ibarat raja, sedangkan anggota tubuh adalah prajuritnya. Bila rajanya baik, maka akan baik pula prajuritnya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, yang artinya sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Bila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Namun bila ia buruk maka buruklah seluruh tubuh. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (HR. Muslim). Keempat, Dimensi Rohani.  Berkaitan dengan spiritual manusia, hubungan manusia dengan Tuhan. Dimensi kelima adalah dimensi sosial, yang berkaitan dengan hubungan antar sesama manusia.

Jadi untuk memperoleh kebahagiaan terutama di era new normal, maka perlu mengaktifkan hormon kebahagiaan. Kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah swt dengan sebaik-baiknya bentuk. Setiap makhluk hidup ataupun benda tak hidup yang diciptakan di muka bumi ini terbuat dari susunan yang paling dasar yang disebut unsur kimia. Bahkan tubuh manusia tersusun dari berbagai unsur kimia dan terjadi proses kimia pada saat kita melakukan aktifitas seperti  makan, tidur, bekerja dan aktifitas-aktifitas lainnya. Dengan mengaktifkan keempat hormon tersebut adalah cara sederhana untuk memperoleh kebahagiaan. Karena hormon tersebut diproduksi secara alami di dalam tubuh manusia.

Dalam filsafat islam, tujuan tertinggi perjuangan manusia adalah mencapai kebahagiaan, yaitu transformasi manusia kepada pengabdian sepenuhnya kepada Tuhan. Hal tersebut akan menghasilkan kebahagiaan tertinggi seperti yang diajarkan oleh salah satu filusuf islam yang terkenal yaitu Imam Al-Ghazali. Menutup tulisan ini saya mengutip salah satu kata-kata bijak yang mengatakan “jagan pernah meletakkan kebahagiaan ditangan orang lain, karena kebahagiaan adalah milik anda”. Wallahu A’lam Bishawab.

 

Bone, 01 Juli 2020

(Rina Novianty)

Rabu, 24 Juni 2020

Mahasiswa (Zaman Old Vs Zaman Now)


Berbicara mengenai dunia mahasiswa tentu banyak hal yang menarik dapat diuraikan. Mahasiswa adalah salah satu generasi penerus bangsa, agent of chage dan social of control. Kondisi mahasiswa zaman sekarang alias mahasiswa “zaman now ” sangat jauh berbeda dengan kondisi mahasiswa zaman dahulu alias mahasiswa “zaman old ”. Hal ini disebabkan karena mahasiswa zaman now telah terjerumus dengan kondisi perkembangan zaman dan arus budaya dari luar dan tidak selektif untuk memilahnya terlebih dahulu.

Sebelumnya saya menguraikan sedikit pengalaman saya sebagai mahasiswa zama old. Ya saya menganggap diri saya sebagai mahasiswa zaman old  karena pada saat saya menjadi mahasiswa bukan smartphone  yang menjadi teman saya, bukan laptop yang menjadi tempat saya menuangkan ide-ide atau mengerjakan tugas, karena pada masa itu yang memiliki laptop masih terhitung jari, kami hanya mengandalkan warnet jika mendapatkan tugas dari dosen. Yang menjadi teman setia saya kala itu hanyalah mesin ketik yang setiap malam menemani.

Mesin ketik adalah alat yang begitu berharga bagi kami mahasiswa MIPA pada saat itu, terutama bagi kami mahasiswa jurusan kimia/pendidikan kimia. Betapa tidak, alat tersebutlah yang menemani malam-malam kami sampai menjelang pagi. Dalam sepekan selain menerima kuliah secara teori, kami juga melakukan kegiatan praktikum. Di semester awal sudah dihadapkan dengan tiga praktikum sekaligus dalam seminggu. Jangan ditanya menghadapi tiga praktikum dalam seminggu bebannya luar biasa, apalagi saya yang notabenenya waktu SMA jarang melakukan praktikum. Sebelum melakukan praktikum ada beberapa hal yang harus dipersiapkan diantaranya harus lulus respon sebelum masuk laboratorium. Lulus respon disini adalah semacam ujian tertulis atau lisan yang diberikan oleh asisten lab terkait praktikum yang akan dilakukan. Respon biasanya dilakukan paling lambat sehari sebelum memasuki laboratorium. Sebelum respon dilakukan terlebih dahulu para praktikan (yang akan melakukan praktikum) diharuskan membuat jurnal yang berhubungan dengan prosedur praktikum mulai dari alat dan bahan yang digunakan serta langkah-langkah yang akan dilakukan. Terbayang ketika harus membuat tiga jurnal dalam sepekan, melakukan tiga kali respon dengan materi yang berbeda dan tentunya tiga buah laporan yang harus dibuat dalam jangka waktu sepekan dengan menggunakan mesin ketik. Yaa....mesin ketik. Terbayang bagaimana rasanya membuat laporan dengan menggunakan mesin ketik yang tidak mempunyai tombol delete, terlebih lagi jika ada asisten lab yang mengharuskan rata kiri-kanan pada laporan tersebut. Sungguh hal tersebut tidaklah mudah dan penuh perjuangan. Sedangkan mahasiswa di zaman now  alias di zaman modern ini dengan mudahnya menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan bantuan teknologi yang semakin hari semakin canggih. Tidak ada lagi penggunaan mesin ketik di zaman sekarang. Mahasiswa seakan dimanjakan dengan teknologi.

Karena dengan perkembangan zaman yang semakin hari semakin modern, mahasiswa zaman now semakin dimudahkan dalam segala hal, misalnya dalam mengerjakan tugas-tugas kelompok dari dosen, mahasiswa zaman now  jika mendapatkan tugas kelompok dari dosen, hal pertama yang biasa dilakukan adalah membuat grup chat di whatsApp, kemudian janjian mengerjakan tugas di cafe yang dilengkapi dengan fasilitas wifi gratis, yang tekadang karena tempatnya yang nyaman, akhirnya keasyikan ngobrol dengan temannya atau keasyikan dengan gadgetnya masing-masing dan akhirnya tugas menjadi terbengkalai. Berbeda dengan mahasiswa zaman old, ketika mendapatkan tugas kelompok, hal yang dilakukan adalah janjian di kampus untuk ke perpustakaan, bahkan ketika tidak ada jam kuliah pun rela nongkrong di perpustakaan kampus demi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Zaman now  sering diidentikkan dengan degradasi moral generasi muda yang tidak dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara bijak dan gagal menyaring kebiasaan buruk dan budaya dari luar, sehingga berdampak pada kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah etika dalam hal berkomunikasi. Ketika saya menjadi mahasiswa, untuk berkomunikasi dengan dosen mengenai jadwal konsultasi baik itu melalui pesan singkat alias SMS atau via telepon diperlukan waktu berpikir yang cukup lama dan panjang, karena takut apa yang akan disampaikan kurang sopan, takut waktunya tidak tepat, takut mengganggu dosen yang lagi istirahat dan berbagai ketakutan-ketakutan lainnya. Terkadang karena takutnya untuk menghubungi dosen maka langkah yang diambil adalah menunggu di depan ruang kerjanya dari pagi sampai sore yang pada akhirnya terkadang tidak mendapatkan apa-apa (dosennya tidak datang).

Akan tetapi jika membandingkan dengan mahasiswa zaman now  dimana etika mahasiswa zaman old  sangatlah berbeda dengan mahasiswa zaman now, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti adanya media sosial, sehingga banyak mahasiswa yang kurang beretika ketika berkomunikasi dengan dosennya. Dengan mudahnya mereka mendapatkan akses informasi tentang apa saja yang mereka inginkan. Mahasiswa zaman now  tidak segan-segan mengirimkan pesan kepada dosennya baik melalui sms, ataupun whatsApp kapan pun mereka inginkan, yang terkadang isi pesannya seperti pesan untuk temannya, dan bahkan tidak mengkondisikan waktu yang tepat. Mahasiswa zaman old  sangat hormat ke dosen, karena dosen adalah orang yang berjasa dalam memberikan ilmu ke mahasiswa, sedangkan mahasiswa zaman now, dosen memang di hormati, terlebih ketika bertemu di kelas atau di lingkungan kampus, namun saat di dunia maya terkadang ada mahasiswa yang mengumpat ke dosen mereka dengan berbagai alasan.

 Oleh karenanya meskipun kita hidup di zaman sekarang, seharusnya kita bisa menerapkan apa yang dilakukan oleh orang pada zaman dahulu, terlebih mengenai persoalan etika. Karena manusia sebagai makhluk sosial memiliki nilai dan norma yang harus di taati. Karena etika sangat berperan penting dalam kehidupan sosial manusia yaitu ketika kita menginginkan dihormati dan dihargai oleh orang lain, maka terlebih dahulu kita harus belajar menghargai dan menghormati orang lain. Oleh karena itu jadilah manusia yang memiliki etika, bermoral dan saling menghargai antar sesama manusia dan tetap membuka diri terhadap perkembangan zaman. Menutup tulisan ini ada kata-kata bijak yang mengatakan belajarlah adab sebelum ilmu, karena ilmu tanpa adab hanya akan membuatmu sombong, ingatlah iblis, ilmunya tinggi tapi dilaknat oleh Allah swt karena kesombongannya. Wallahu A'lam Bishawab.

Bone, 24 Juni 2020

(Rina Novianty)

 

 

 

Rabu, 17 Juni 2020

Hasil Tidak Akan Mengkhianati Proses


Tidak pernah terbayangkan dalam benak saya akan bergelut dalam bidang pendidikan dalam hal ini berprofesi sebagai seorang dosen. Karena saya terlahir dari sebuah keluarga yang notabenenya dari kalangan pendidik. Kedua orang tua saya adalah seorang guru yang tentunya saya merasakan bagaimana menjadi anak seorang guru, yang sedari kecil selalu mengikut orang tua ke sekolah karena tidak ada yang menjaga saya di rumah. Karena itulah saya tidak pernah bercita-cita ingin menjadi seorang guru, karena menurut saya kala itu tugas dan tanggung jawab seorang guru itu berat, karena sehari-hari saya melihat perjuangan kedua orang tua saya. Sedari kecil saya hanya bercita-cita suatu saat nanti ingin memakai jas putih yang di dadanya biasa tergantung stetoskop. Yaa cita-cita kecil saya adalah menjadi seorang dokter. Cita-cita tersebut adalah cita-cita kebanyakan anak di masa saya. Seiring berjalannya waktu ternyata takdir berkata lain. Takdir mengantarkan saya tidak bisa terlepas dari bidang pendidikan.

Hal ini bermula ketika di akhir menyelesaikan jenjang pendidikan tingkat menengah atas di Tahun 2005, ada pendaftaran jalur bebas tes dari dua kampus ternama di Sulawesi Selatan. Kalau sekarang jalur tersebut bernama jalur undangan. Tentunya saya tidak ingin melewatkan kesempatan begitu saja, karena kebetulan pada saat SMA nilai saya selalu berada dalam 3 besar. Ajakan teman-teman membuat saya terdorong untuk mengikuti jalur tersebut karena pensyaratan pada masa itu hanya mengirimkan nilai rapor dari kelas satu sampai kelas tiga. Pada saat itu saya mendaftar di dua kampus sekaligus, saya mengambil jurusan pendidikan kimia di kampus UNM dan kedokteran di kampus Unhas. Meskipun pada awalnya saya tidak memiliki keinginan untuk menjadi guru, akan tetapi karena adanya peluang dikampus orange tersebut, maka saya ikut mendaftar. Saya mengambil pendidikan kimia bukan tanpa alasan, karena semasa SMA saya senang belajar kimia, selain itu dikarenakan karena guru saya dalam memaparkan materi mudah di pahami. Karena saya juga  tetap pada cita-cita awal saya maka dari itu saya memberanikan diri untuk mengikuti jalur yang sama dikampus merah, meskipun pada saat itu dalam hati ada rasa pesimis menggrogoti. Dan waktu berjalan, pengumumannya pun keluar dan ternyata saya lulus di kampus UNM, sambil tetap menanti pengumuman dari kampus Unhas, dan alhasil sesuai dengan prediksi awal saya belum beruntung di kampus merah tersebut.

Takdir mengantarkan saya untuk melanjutkan pendidikan di salah satu kampus pencetak guru tersebut. Tahun 2009 saya menyelesaikan studi S1 saya, dan kebetulan di tahun yang sama ada pendaftaran cpns guru di berbagai formasi, dan saya pun tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Setelah mengikuti tes, pengumuman keluar, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Takdir belum berpihak kepada saya untuk lulus menjadi cpns. Oleh karena itu di Tahun 2010 saya melanjutkan pendidikan S2 di kampus dan jurusan yang sama dengan sebelumnya. Selama saya kuliah S2 saya sempat mengikuti kembali tes cpns sesuai dengan bidang saya, akan tetapi hasilnya masih sama dengan sebelumnya. Tahun 2012 saya menyelesaikan studi S2 saya dan setelah itu saya mencari pengalaman mengajar di beberapa kampus di Bone, kampung halaman saya sendiri. Salah satunya tempat saya mengabdi sekarang.

Tahun 2013, kembali di buka pendaftaran cpns, karena pada saat itu saya telah mengantongi ijazah S2, maka saya mencoba peruntukan untuk formasi dosen. Akan tetapi formasi saya pada saat itu hanya ada di beberapa pulau di luar Sulawesi, yaitu di kampus Nusa Cendana  Kupang, Nusa Tenggara Timur. Setelah berkonsultasi dengan kedua orang tua akhirnya saya mendapatkan izin untuk mendaftar di sana. Akhirnya terbanglah saya seorang diri ke Kupang untuk mengikuti tes, beruntungnya pada saat itu ada seorang teman yang tinggal di sana dan siap menampung saya selama berada di Kupang. Tes berlangsung alot, karena pada saat itu masih menggunakan sistem paper pencil. Dan lagi-lagi hasilnya tidak sesuai dengan harapan, saya belum berhasil lulus menjadi calon pegawai negeri sipil. Akan tetapi hal tersebut bukan menjadi alasan untuk saya berputus asa. Saya kembali menjalani hari-hari seperti biasa, dan kembali melakukan aktivitas seperti biasanya yaitu kembali mengajar sebagai dosen Luar Biasa. Di Tahun berikutnya tepatya Tahun 2014, kembali di buka pendaftaran cpns, karena sebelumnya saya telah mencoba peruntukan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan baik formasi guru maupun dosen, maka di Tahun 2014 saya ingin mencoba peruntukan di Kementrian Agama. Ternyata formasi Kemenag pada saat itu keluar di detik-detik terakhir waktu pendaftran. Dipikiran saya pada saat itu jika formasi saya tidak ada di Kemenag, maka tahun in saya akan melewatkan kesempatan untuk mendaftar menjadi cpns karena semua instansi telah tertutup jadwal pendaftarannya. Ternyata seperti kata pepatah kalau rejeki tidak akan lari kemana,  salah satu Instansi di bawah naungan Kemenag tepatnya kampus STAIN Watampone  sekarang sudah beralih nama menjadi IAIN Bone, pada saat itu membuka formasi semua jurusan. Formasi tersebut seakan menjadi angin segar bagi saya karena saya kembali memiliki kesempatan untuk menjadi calon pegawai negeri sipil. Karena formasinya semua jurusan jadi peminatnya cukup banyak pada waktu itu untuk memperebutkan 4 formasi yang disediakan.

Tahun 2014 adalah Tahun pertama diadakan tes cpns dengan sistem CAT. Tentunya sistem CAT berbeda dengan sistem paper pencil. Dengan sistem CAT diharuskan memenuhi nilai ambang batas/nilai standar yang telah di tetapkan yang terdiri dari 3 komponen yaitu Tes Kemampuan Pribadi (TKP), Tes Intelegensi Umum (TIU) dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Pada saat kali pertama tes dengan sistem CAT, terbilang sedikit yang memenuhi kriteria passing grade karena banyak formasi yang kosong karena kurangnya peserta yang memenuhi nilai ambang batas yang telah ditetapkan. Pada saat itu yang memenuhi nilai standar atau passing grade untuk formasi saya ada 5 orang, berarti satu orang akan gugur pada tahap kedua yaitu tahap TKB (Tes Komptensi Bidang). Pengumuman hasil TKB sekaligus pengumuman final pada saat itu tepat di akhir Tahun 2014. Ternyata Tuhan memberikan hadiah tak terduga di akhir Tahun, karena salah satu nama yang lulus pada formasi tersebut adalah nama saya. Masih tergambar dengan jelas pengumuman saat itu, saya sedang mengajar di salah salah satu kampus swasta yang ada di Bone, tiba-tiba hp saya berdering, ternyata salah seorang teman menginformasikan untuk mengecek pengumuman, setelah saya mengecek pengumuman tersebut ternyata betul nama saya ada didaftar nama-nama peserta yang lulus. Bahagia tak terhingga pada saat itu, sampai-sampai saya tidak konsentrasi mengajar karena tidak sabar ingin pulang ke rumah untuk menyampaikan kabar bahagia ini kepada kedua orang tua saya.

Tahun 2014  menjadi sejarah dalam catatan perjalanan saya, betapa tidak setelah saya mendaftar cpns berkali-kali mulai dari Tahun 2009 dari formasi guru sampai formasi dosen, dan sampai melanglang buana mencari peruntukan di kampung orang ternyata saya ditakdirkan untuk mengabdi di kampung halaman sendiri. Tahun 2014 Tuhan mengabulkan doa saya dan doa kedua orang tua saya. Perjuangan untuk mengikuti tes cpns di Tahun 2014 memberikan banyak cerita dibaliknya. Ada banyak hikmah dari kegagalan tes cpns sebelumnya. Pertama, Tahun 2014 dimana untuk pertama kalinya dilakukan tes cpns dengan sistem CAT. Kedua, Adanya formasi semua jurusan yang di buka di kampus STAIN Watampone, sehingga memungkinkan saya untuk mendaftar dikampus tersebut, yang notabenenya saya alumni pendidikan kimia. Ketiga, yang paling berharga adalah saya tidak perlu jauh dari kedua orang tua saya karena saya lulus dan bisa mengabdi di kampung halaman sendiri. Singkat cerita jangan pernah lelah untuk berusaha dan berjuang, selama kita masih diberikan kesempatan, karena kita tidak pernah tahu kapan Tuhan mengabulkan keinginan dan harapan kita.

Seperti ungkapan bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses, untuk mendapatkan sesuatu harus disertai dengan kerja keras, hidup ini berproses tidak ada yang instan. Ibarat untuk memakan kacang pun terlebih dahulu kita harus membuka kulitnya, begitupun dengan kehidupan untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan harus disertai dengan usaha dan doa. Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, mengenai hasil kita hanya bisa berpasrah menunggu ketetapan Tuhan. Kegagalan yang dialami dijadikan sebagai cambuk untuk kita terus belajar, bukan untuk berputus asa. Kegagalan bukanlah hal yang memalukan. Yang memalukan adalah menyerah di saat baru pertama kali mengalami kegagalan. Oleh karena itu, kita harus tetap mencoba dan mencoba sampai Tuhan berkata saat inilah waktunya. Karena bisa saja kegagalan hari ini terdapat banyak hikmah di dalamnya.

Menutup cerita ini ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa orang yang hebat bukan dia yang mencapai keberhasilan sekali berusaha. Melainkan dia yang terus bangkit dan tidak kapok berusaha meski sudah berkali-kali gagal.

Bone, 17 Juni 2020

(Rina Novianty)


Rabu, 10 Juni 2020

Covid-19, Musibah atau Anugerah?????

Awal tahun 2020 dunia digemparkan dengan adanya wabah virus corona (covid-19), yang diperkirakan berasal dari kota Wuhan Provinsi Hubei, Tiongkok. Salah satu Negara yang terdampak covid-19 adalah Indonesia. Indonesia sendiri mengumumkan adanya kasus positif covid-19 pada Bulan Maret Tahun 2020. Di saat kasus covid-19 meningkat hari demi hari, ada jutaan manusia diseluruh dunia yang terpapar virus tersebut. Banyak diantara kita bertanya-tanya inikah musibah atau anugerah? Inikah bencana atau rencana Allah? Inikah azab atau cara Allah menguji manusia? Atau cara Allah mengajarkan kepada manusia tentang alam semesta, tentang pentingnya bersyukur?

Covi-19 hadir ditengah masyarakat membawa dampak bagi kehidupan manusia. Banyak pihak yang merasa dirugikan dengan mewabahnya virus ini. Virus ini memberikan berbagai dampak bagi kehidupan di berbagai sektor. Dari sektor ekonomi terjadi perlambatan pertumbuhan, banyak perusahan merugi, terjadi phk secara besar-besaran, kondisi perekonomian pun kena imbasnya. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, apabila pandemi ini masih bertahan antara 3 - 6 Bulan lagi maka situasi akan semakin memburuk, dimana pertumbuhan ekonomi diperkirankan pada kisaran 2,5% bahkan 0% (Suaramerdeka.com). Berdasarkan data per Tanggal 03 Juli 2020 dari gugus tugas percepatan penanganan covid-19 jumlah postif corona di Indonesia mencapai 60.695 kasus dan yang meninggal dunia mencapai 3.036 kasus.

Selain sektor ekonomi, sektor pendidikan pun terkena dampaknya, terjadi perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan. Keputusan pemerintah menerapkan kebijakan work from home (WFH), membuat bebagai pihak tidak siap. Ketidaksiapan lembaga pendidikan menjadi faktor utama terjadinya berbagai masalah dalam dunia pendidikan. Para pelaku pendidikan di tuntut untuk melakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang biasanya dilakukan di kelas secara tatap muka kini berubah menjadi pembelajaran berbasis dalam jaringan (online).  Hal ini terasa menyulitkan di awal diterapkannya pembelajaran daring, karena belum terbiasa dengan hal tersebut. Terjadi transformasi secara cepat dalam dunia pendidikan.

Peralihan proses pembelajaran dari luar jaringan menjadi dalam jaringan memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur tersebut agar proses pembelajaran tetap terlaksana seperti biasanya. Para pelaku pendidikan dituntut untuk memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran sebenarnya bukan tanpa masalah, banyak faktor yang menghambat pelaksanaan proses pembelajaran tersebut diantanya penguasaan teknologi yang masih rendah bagi sebagian pendidik maupun peserta didik, jaringan internet yang tidak merata, keterbatasan sarana dan prasarana,  biaya, dan ketidaksiapan orang tua menjadi pengajar/pendidik di masa work from home.

Model pembelajaran dalam jaringan (online), sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pendidikan, karena sebenarnya di beberapa perguruan tinggi sudah menerapkan sistem tersebut, akan tetapi untuk tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah belum begitu populer sehingga memerlukan persiapan agar dapat berjalan secara efektif. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lambat laun model pembelajaran dalam jaringan akan menjadi model pembelajaran di era industri 4.0.

Setiap perubahan yang terjadi akan memberikan dampak, ibarat mata uang yang memiliki dua sisi, sisi negatif maupun sisi positif. Menyikapi kasus tersebut pemerintah memunculkan berbagai kebijakan. mulai dari kebijakan work from home (WFH), sosial dan physical distancing, sampai pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kebijakan-kebijakan tersebut diambil oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Seluruh kegiatan belajar mengajar dan kerja dilakukan dari rumah. Selain itu, masyarakat juga di tuntut untuk menghindari aktivitas yang melibatkan banyak orang termasuk dalam hal beribadah. Dengan mewabahnya covid-19 ini, semua orang harus mengikuti perubahan tersebut. Kehidupan sosial manusia mengalami perubahan, dimana manusia yang kodratnya sebagai makhluk sosial merasa ruang geraknya dibatasi.

Apakah ini termasuk musibah?? Atau hadirnya covid-19 ini memberikan hikmah yang luar biasa??

Sebagai manusia kita patut bersyukur, adanya covid-19 yang menggemparkan seluruh dunia, terlepas dari apakah adanya virus tersebut karena faktor kepentingan politik atau faktor pertarungan ekonomi; faktor  by design  atau hasil rekayasa tangan-tangan manusia atau bukan; atau karena faktor penyebab lainnya, yang jelas hal tersebut telah membuat manusia tersadar bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah dan memiliki keterbatasan.  Alhasil semakin banyak orang yang menyadari pentingnya menjaga alam, dan pentingnya beribadah kepada Allah swt serta pentingnya melakukan introspeksi diri. Akhirnya bumi pun memiliki waktu untuk beristirahat dari berbagai paparan polusi yang diakibatkan oleh ulah manusia itu sendiri serta perubahan-perubahan derastis yang terjadi selama masa pandemi. Dan kesemuanya itu adalah anugerah. Ya sebuah anugerah!!!!!

Betapa tidak, begitu banyak hikmah yang dapat dipetik dari musibah ini.  Pertama, mengingatkan kepada manusia, bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, ketika covid-19 mewabah dan menyebar kemana-mana manusia menjadi tidak berdaya, banyak manusia yang terpapar dan bahkan kehilangan nyawa.  Manusia tidak berdaya ketika Allah menurunkan penyakit yang bernama covid-19. Oleh karena itu manusia hanya bisa  berusaha dan berdoa agar terhindar dari wabah tersebut dan menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah semata.

Kedua, selama kebijakan work from home (WFH) diberlakukan, aktivitas sehari-hari lebih banyak dihabiskan di rumah. Seorang yang memiliki segudang aktivitas di hari-hari sebelumnya, akhirnya memiliki kesempatan lebih banyak bersama keluarga, seperti wanita karier misalnya, yang biasanya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor atau di tempatnya berkerja akhirnya selama masa pandemi bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga, bisa menjadi guru bagi anak-anak mereka, yang selama ini waktu seperti itu akan sulit di dapatkan dalam keadaan normal (sebelum adanya covid-19). Selain itu, selama masa pandemi yang mengharuskan bekerja dari rumah, maka seseorang dapat dengan mudah memperoleh pengetahuan dan menambah wawasan mengenai berbagai hal terutama yang berkaitan dengan covid-19 karena banyaknya bermunculan seminar-seminar online gratis baik lokal, nasional maupun internasional.

Ketiga, adanya wabah covid-19 membuat manusia menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan, karena dapat melindunginya dari berbagai penyakit. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan masalah kebersihan. Semenjak covid-19 menyebar, kita senangtiasa dianjurkan untuk mencuci tangan dengan sabun atau memakai handsanitizer, memakai masker jika keluar rumah. Hal tersebut sejalan apa yang dianjurkan dalam Islam tentang pentingnya memelihara kebersihan dan kesucian seperti yang tertuang di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Dari Abu Malik Al-Ash’ari ra, bahwa Rasulullah SAW mengatakan, “Kebersihan adalah sebagian dari iman”.

Keempat, tidak dipungkiri mewabahnya covid-19 ini menimbulkan banyak korban baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga meningkatkan solidaritas di kalangan masayarakat. Banyak masyarakat bersimpati dan bahu-membahu membantu mereka yang terdampak covid-19. Berbagai aksi yang dilakukan untuk mengurangi beban saudara-saudara kita yang terdampak. Hal tersebut tentunya akan memperkuat persatuan dan kesatuan diantara sesama manusia. Sebagaimana Firman Allah dalam Surah Al-Maaida Ayat 2 yang berbunyi “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya”.

Semoga wabah covid-19 ini segera berlalu dan kehidupan kembali berjalan normal seperti sedia kala dan semoga kita semua menjadi hamba yang senangtiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya dan bersabar atas segala musibah yang menimpa kita semua. Aamiin.

Menutup tulisan ini, mengutip kata-kata bijak dari Tere Liye yang mengatakan bahwa "Hidup itu dipergilirkan satu sama lain. Kadang kita di atas kadang kita di bawah. kadang kita tertawa lantas kemudian kita terdiam bahkan menangis. Itulah Kehidupan. Barang siapa yang sabar maka semua bisa dilewati dengan hati lapang". Wallahu A'lam Bishawab.

Bone, 10 Juni 2020

(Rina Novianty)





" MANUSIA SPBU "

Sabtu, 18 Juli 2020 saya mengikuti webinar Teras PPA yang diselenggarakan oleh PPA Institut, dengan tema " Manusia SPBU " yang di ...