Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2020

Mahasiswa (Zaman Old Vs Zaman Now)


Berbicara mengenai dunia mahasiswa tentu banyak hal yang menarik dapat diuraikan. Mahasiswa adalah salah satu generasi penerus bangsa, agent of chage dan social of control. Kondisi mahasiswa zaman sekarang alias mahasiswa “zaman now ” sangat jauh berbeda dengan kondisi mahasiswa zaman dahulu alias mahasiswa “zaman old ”. Hal ini disebabkan karena mahasiswa zaman now telah terjerumus dengan kondisi perkembangan zaman dan arus budaya dari luar dan tidak selektif untuk memilahnya terlebih dahulu.

Sebelumnya saya menguraikan sedikit pengalaman saya sebagai mahasiswa zama old. Ya saya menganggap diri saya sebagai mahasiswa zaman old  karena pada saat saya menjadi mahasiswa bukan smartphone  yang menjadi teman saya, bukan laptop yang menjadi tempat saya menuangkan ide-ide atau mengerjakan tugas, karena pada masa itu yang memiliki laptop masih terhitung jari, kami hanya mengandalkan warnet jika mendapatkan tugas dari dosen. Yang menjadi teman setia saya kala itu hanyalah mesin ketik yang setiap malam menemani.

Mesin ketik adalah alat yang begitu berharga bagi kami mahasiswa MIPA pada saat itu, terutama bagi kami mahasiswa jurusan kimia/pendidikan kimia. Betapa tidak, alat tersebutlah yang menemani malam-malam kami sampai menjelang pagi. Dalam sepekan selain menerima kuliah secara teori, kami juga melakukan kegiatan praktikum. Di semester awal sudah dihadapkan dengan tiga praktikum sekaligus dalam seminggu. Jangan ditanya menghadapi tiga praktikum dalam seminggu bebannya luar biasa, apalagi saya yang notabenenya waktu SMA jarang melakukan praktikum. Sebelum melakukan praktikum ada beberapa hal yang harus dipersiapkan diantaranya harus lulus respon sebelum masuk laboratorium. Lulus respon disini adalah semacam ujian tertulis atau lisan yang diberikan oleh asisten lab terkait praktikum yang akan dilakukan. Respon biasanya dilakukan paling lambat sehari sebelum memasuki laboratorium. Sebelum respon dilakukan terlebih dahulu para praktikan (yang akan melakukan praktikum) diharuskan membuat jurnal yang berhubungan dengan prosedur praktikum mulai dari alat dan bahan yang digunakan serta langkah-langkah yang akan dilakukan. Terbayang ketika harus membuat tiga jurnal dalam sepekan, melakukan tiga kali respon dengan materi yang berbeda dan tentunya tiga buah laporan yang harus dibuat dalam jangka waktu sepekan dengan menggunakan mesin ketik. Yaa....mesin ketik. Terbayang bagaimana rasanya membuat laporan dengan menggunakan mesin ketik yang tidak mempunyai tombol delete, terlebih lagi jika ada asisten lab yang mengharuskan rata kiri-kanan pada laporan tersebut. Sungguh hal tersebut tidaklah mudah dan penuh perjuangan. Sedangkan mahasiswa di zaman now  alias di zaman modern ini dengan mudahnya menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan bantuan teknologi yang semakin hari semakin canggih. Tidak ada lagi penggunaan mesin ketik di zaman sekarang. Mahasiswa seakan dimanjakan dengan teknologi.

Karena dengan perkembangan zaman yang semakin hari semakin modern, mahasiswa zaman now semakin dimudahkan dalam segala hal, misalnya dalam mengerjakan tugas-tugas kelompok dari dosen, mahasiswa zaman now  jika mendapatkan tugas kelompok dari dosen, hal pertama yang biasa dilakukan adalah membuat grup chat di whatsApp, kemudian janjian mengerjakan tugas di cafe yang dilengkapi dengan fasilitas wifi gratis, yang tekadang karena tempatnya yang nyaman, akhirnya keasyikan ngobrol dengan temannya atau keasyikan dengan gadgetnya masing-masing dan akhirnya tugas menjadi terbengkalai. Berbeda dengan mahasiswa zaman old, ketika mendapatkan tugas kelompok, hal yang dilakukan adalah janjian di kampus untuk ke perpustakaan, bahkan ketika tidak ada jam kuliah pun rela nongkrong di perpustakaan kampus demi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Zaman now  sering diidentikkan dengan degradasi moral generasi muda yang tidak dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara bijak dan gagal menyaring kebiasaan buruk dan budaya dari luar, sehingga berdampak pada kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah etika dalam hal berkomunikasi. Ketika saya menjadi mahasiswa, untuk berkomunikasi dengan dosen mengenai jadwal konsultasi baik itu melalui pesan singkat alias SMS atau via telepon diperlukan waktu berpikir yang cukup lama dan panjang, karena takut apa yang akan disampaikan kurang sopan, takut waktunya tidak tepat, takut mengganggu dosen yang lagi istirahat dan berbagai ketakutan-ketakutan lainnya. Terkadang karena takutnya untuk menghubungi dosen maka langkah yang diambil adalah menunggu di depan ruang kerjanya dari pagi sampai sore yang pada akhirnya terkadang tidak mendapatkan apa-apa (dosennya tidak datang).

Akan tetapi jika membandingkan dengan mahasiswa zaman now  dimana etika mahasiswa zaman old  sangatlah berbeda dengan mahasiswa zaman now, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti adanya media sosial, sehingga banyak mahasiswa yang kurang beretika ketika berkomunikasi dengan dosennya. Dengan mudahnya mereka mendapatkan akses informasi tentang apa saja yang mereka inginkan. Mahasiswa zaman now  tidak segan-segan mengirimkan pesan kepada dosennya baik melalui sms, ataupun whatsApp kapan pun mereka inginkan, yang terkadang isi pesannya seperti pesan untuk temannya, dan bahkan tidak mengkondisikan waktu yang tepat. Mahasiswa zaman old  sangat hormat ke dosen, karena dosen adalah orang yang berjasa dalam memberikan ilmu ke mahasiswa, sedangkan mahasiswa zaman now, dosen memang di hormati, terlebih ketika bertemu di kelas atau di lingkungan kampus, namun saat di dunia maya terkadang ada mahasiswa yang mengumpat ke dosen mereka dengan berbagai alasan.

 Oleh karenanya meskipun kita hidup di zaman sekarang, seharusnya kita bisa menerapkan apa yang dilakukan oleh orang pada zaman dahulu, terlebih mengenai persoalan etika. Karena manusia sebagai makhluk sosial memiliki nilai dan norma yang harus di taati. Karena etika sangat berperan penting dalam kehidupan sosial manusia yaitu ketika kita menginginkan dihormati dan dihargai oleh orang lain, maka terlebih dahulu kita harus belajar menghargai dan menghormati orang lain. Oleh karena itu jadilah manusia yang memiliki etika, bermoral dan saling menghargai antar sesama manusia dan tetap membuka diri terhadap perkembangan zaman. Menutup tulisan ini ada kata-kata bijak yang mengatakan belajarlah adab sebelum ilmu, karena ilmu tanpa adab hanya akan membuatmu sombong, ingatlah iblis, ilmunya tinggi tapi dilaknat oleh Allah swt karena kesombongannya. Wallahu A'lam Bishawab.

Bone, 24 Juni 2020

(Rina Novianty)

 

 

 

Rabu, 17 Juni 2020

Hasil Tidak Akan Mengkhianati Proses


Tidak pernah terbayangkan dalam benak saya akan bergelut dalam bidang pendidikan dalam hal ini berprofesi sebagai seorang dosen. Karena saya terlahir dari sebuah keluarga yang notabenenya dari kalangan pendidik. Kedua orang tua saya adalah seorang guru yang tentunya saya merasakan bagaimana menjadi anak seorang guru, yang sedari kecil selalu mengikut orang tua ke sekolah karena tidak ada yang menjaga saya di rumah. Karena itulah saya tidak pernah bercita-cita ingin menjadi seorang guru, karena menurut saya kala itu tugas dan tanggung jawab seorang guru itu berat, karena sehari-hari saya melihat perjuangan kedua orang tua saya. Sedari kecil saya hanya bercita-cita suatu saat nanti ingin memakai jas putih yang di dadanya biasa tergantung stetoskop. Yaa cita-cita kecil saya adalah menjadi seorang dokter. Cita-cita tersebut adalah cita-cita kebanyakan anak di masa saya. Seiring berjalannya waktu ternyata takdir berkata lain. Takdir mengantarkan saya tidak bisa terlepas dari bidang pendidikan.

Hal ini bermula ketika di akhir menyelesaikan jenjang pendidikan tingkat menengah atas di Tahun 2005, ada pendaftaran jalur bebas tes dari dua kampus ternama di Sulawesi Selatan. Kalau sekarang jalur tersebut bernama jalur undangan. Tentunya saya tidak ingin melewatkan kesempatan begitu saja, karena kebetulan pada saat SMA nilai saya selalu berada dalam 3 besar. Ajakan teman-teman membuat saya terdorong untuk mengikuti jalur tersebut karena pensyaratan pada masa itu hanya mengirimkan nilai rapor dari kelas satu sampai kelas tiga. Pada saat itu saya mendaftar di dua kampus sekaligus, saya mengambil jurusan pendidikan kimia di kampus UNM dan kedokteran di kampus Unhas. Meskipun pada awalnya saya tidak memiliki keinginan untuk menjadi guru, akan tetapi karena adanya peluang dikampus orange tersebut, maka saya ikut mendaftar. Saya mengambil pendidikan kimia bukan tanpa alasan, karena semasa SMA saya senang belajar kimia, selain itu dikarenakan karena guru saya dalam memaparkan materi mudah di pahami. Karena saya juga  tetap pada cita-cita awal saya maka dari itu saya memberanikan diri untuk mengikuti jalur yang sama dikampus merah, meskipun pada saat itu dalam hati ada rasa pesimis menggrogoti. Dan waktu berjalan, pengumumannya pun keluar dan ternyata saya lulus di kampus UNM, sambil tetap menanti pengumuman dari kampus Unhas, dan alhasil sesuai dengan prediksi awal saya belum beruntung di kampus merah tersebut.

Takdir mengantarkan saya untuk melanjutkan pendidikan di salah satu kampus pencetak guru tersebut. Tahun 2009 saya menyelesaikan studi S1 saya, dan kebetulan di tahun yang sama ada pendaftaran cpns guru di berbagai formasi, dan saya pun tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Setelah mengikuti tes, pengumuman keluar, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Takdir belum berpihak kepada saya untuk lulus menjadi cpns. Oleh karena itu di Tahun 2010 saya melanjutkan pendidikan S2 di kampus dan jurusan yang sama dengan sebelumnya. Selama saya kuliah S2 saya sempat mengikuti kembali tes cpns sesuai dengan bidang saya, akan tetapi hasilnya masih sama dengan sebelumnya. Tahun 2012 saya menyelesaikan studi S2 saya dan setelah itu saya mencari pengalaman mengajar di beberapa kampus di Bone, kampung halaman saya sendiri. Salah satunya tempat saya mengabdi sekarang.

Tahun 2013, kembali di buka pendaftaran cpns, karena pada saat itu saya telah mengantongi ijazah S2, maka saya mencoba peruntukan untuk formasi dosen. Akan tetapi formasi saya pada saat itu hanya ada di beberapa pulau di luar Sulawesi, yaitu di kampus Nusa Cendana  Kupang, Nusa Tenggara Timur. Setelah berkonsultasi dengan kedua orang tua akhirnya saya mendapatkan izin untuk mendaftar di sana. Akhirnya terbanglah saya seorang diri ke Kupang untuk mengikuti tes, beruntungnya pada saat itu ada seorang teman yang tinggal di sana dan siap menampung saya selama berada di Kupang. Tes berlangsung alot, karena pada saat itu masih menggunakan sistem paper pencil. Dan lagi-lagi hasilnya tidak sesuai dengan harapan, saya belum berhasil lulus menjadi calon pegawai negeri sipil. Akan tetapi hal tersebut bukan menjadi alasan untuk saya berputus asa. Saya kembali menjalani hari-hari seperti biasa, dan kembali melakukan aktivitas seperti biasanya yaitu kembali mengajar sebagai dosen Luar Biasa. Di Tahun berikutnya tepatya Tahun 2014, kembali di buka pendaftaran cpns, karena sebelumnya saya telah mencoba peruntukan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan baik formasi guru maupun dosen, maka di Tahun 2014 saya ingin mencoba peruntukan di Kementrian Agama. Ternyata formasi Kemenag pada saat itu keluar di detik-detik terakhir waktu pendaftran. Dipikiran saya pada saat itu jika formasi saya tidak ada di Kemenag, maka tahun in saya akan melewatkan kesempatan untuk mendaftar menjadi cpns karena semua instansi telah tertutup jadwal pendaftarannya. Ternyata seperti kata pepatah kalau rejeki tidak akan lari kemana,  salah satu Instansi di bawah naungan Kemenag tepatnya kampus STAIN Watampone  sekarang sudah beralih nama menjadi IAIN Bone, pada saat itu membuka formasi semua jurusan. Formasi tersebut seakan menjadi angin segar bagi saya karena saya kembali memiliki kesempatan untuk menjadi calon pegawai negeri sipil. Karena formasinya semua jurusan jadi peminatnya cukup banyak pada waktu itu untuk memperebutkan 4 formasi yang disediakan.

Tahun 2014 adalah Tahun pertama diadakan tes cpns dengan sistem CAT. Tentunya sistem CAT berbeda dengan sistem paper pencil. Dengan sistem CAT diharuskan memenuhi nilai ambang batas/nilai standar yang telah di tetapkan yang terdiri dari 3 komponen yaitu Tes Kemampuan Pribadi (TKP), Tes Intelegensi Umum (TIU) dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Pada saat kali pertama tes dengan sistem CAT, terbilang sedikit yang memenuhi kriteria passing grade karena banyak formasi yang kosong karena kurangnya peserta yang memenuhi nilai ambang batas yang telah ditetapkan. Pada saat itu yang memenuhi nilai standar atau passing grade untuk formasi saya ada 5 orang, berarti satu orang akan gugur pada tahap kedua yaitu tahap TKB (Tes Komptensi Bidang). Pengumuman hasil TKB sekaligus pengumuman final pada saat itu tepat di akhir Tahun 2014. Ternyata Tuhan memberikan hadiah tak terduga di akhir Tahun, karena salah satu nama yang lulus pada formasi tersebut adalah nama saya. Masih tergambar dengan jelas pengumuman saat itu, saya sedang mengajar di salah salah satu kampus swasta yang ada di Bone, tiba-tiba hp saya berdering, ternyata salah seorang teman menginformasikan untuk mengecek pengumuman, setelah saya mengecek pengumuman tersebut ternyata betul nama saya ada didaftar nama-nama peserta yang lulus. Bahagia tak terhingga pada saat itu, sampai-sampai saya tidak konsentrasi mengajar karena tidak sabar ingin pulang ke rumah untuk menyampaikan kabar bahagia ini kepada kedua orang tua saya.

Tahun 2014  menjadi sejarah dalam catatan perjalanan saya, betapa tidak setelah saya mendaftar cpns berkali-kali mulai dari Tahun 2009 dari formasi guru sampai formasi dosen, dan sampai melanglang buana mencari peruntukan di kampung orang ternyata saya ditakdirkan untuk mengabdi di kampung halaman sendiri. Tahun 2014 Tuhan mengabulkan doa saya dan doa kedua orang tua saya. Perjuangan untuk mengikuti tes cpns di Tahun 2014 memberikan banyak cerita dibaliknya. Ada banyak hikmah dari kegagalan tes cpns sebelumnya. Pertama, Tahun 2014 dimana untuk pertama kalinya dilakukan tes cpns dengan sistem CAT. Kedua, Adanya formasi semua jurusan yang di buka di kampus STAIN Watampone, sehingga memungkinkan saya untuk mendaftar dikampus tersebut, yang notabenenya saya alumni pendidikan kimia. Ketiga, yang paling berharga adalah saya tidak perlu jauh dari kedua orang tua saya karena saya lulus dan bisa mengabdi di kampung halaman sendiri. Singkat cerita jangan pernah lelah untuk berusaha dan berjuang, selama kita masih diberikan kesempatan, karena kita tidak pernah tahu kapan Tuhan mengabulkan keinginan dan harapan kita.

Seperti ungkapan bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses, untuk mendapatkan sesuatu harus disertai dengan kerja keras, hidup ini berproses tidak ada yang instan. Ibarat untuk memakan kacang pun terlebih dahulu kita harus membuka kulitnya, begitupun dengan kehidupan untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan harus disertai dengan usaha dan doa. Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, mengenai hasil kita hanya bisa berpasrah menunggu ketetapan Tuhan. Kegagalan yang dialami dijadikan sebagai cambuk untuk kita terus belajar, bukan untuk berputus asa. Kegagalan bukanlah hal yang memalukan. Yang memalukan adalah menyerah di saat baru pertama kali mengalami kegagalan. Oleh karena itu, kita harus tetap mencoba dan mencoba sampai Tuhan berkata saat inilah waktunya. Karena bisa saja kegagalan hari ini terdapat banyak hikmah di dalamnya.

Menutup cerita ini ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa orang yang hebat bukan dia yang mencapai keberhasilan sekali berusaha. Melainkan dia yang terus bangkit dan tidak kapok berusaha meski sudah berkali-kali gagal.

Bone, 17 Juni 2020

(Rina Novianty)


" MANUSIA SPBU "

Sabtu, 18 Juli 2020 saya mengikuti webinar Teras PPA yang diselenggarakan oleh PPA Institut, dengan tema " Manusia SPBU " yang di ...