Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juli 2020

MENULIS itu MUDAH


Berbicara mengenai dunia menulis, mungkin banyak orang yang berpendapat bahwa menulis itu sulit, termasuk saya sendiri yang menganggap bahwa menulis adalah sesuatu yang membutuhkan keahlian tersendiri yang tidak semua orang memilikinya. Tetapi setelah saya bergabung dengan grup menulis dan mulai berkenalan dengan dunia blogging, akhirnya sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan dunia menulis, meskipun tulisan saya masih berupa tulisan-tulisan sederhana.

Menulis sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja, syaratnya adalah adanya kemauan dan mulai praktek untuk menulis. Seperti saya yang sebelumnya tidak pernah menyangka sama sekali akan menulis di blog ini, akan tetapi setelah memutuskan membuat blog, mau tidak mau saya harus mulai praktek menulis. Dengan adanya blog ini memotivasi saya untuk menulis minimal satu tulisan setiap pekannya. Dari sinilah timbul keinginan untuk belajar, meskipun saya sendiri tidak tahu apakah tulisan yang saya buat enak di baca atau tidak, bermanfaat atau tidak. Semuanya tergantung dari penilaian pembaca. Setidaknya dengan mebuat tulisan di blog setiap pekan, akan menjadikan suatu kebiasaan. Seperti halnya keahlian lain, jika sering dilatih maka akan semakin mahir, begitu juga dengan kegiatan menulis. Semakin sering anda praktek menulis, maka semakin terbiasa anda menulis. Seperti kata pepatah ala bisa karena biasa.

Kamis, tanggal 25 Juni 2020 saya mengikuti salah satu workshop online yang dilaksanakan oleh Mutakhir Academy dengan tema Trik Jitu Bikin Buku: From Zero to Zorro. Dari tema tersebut kelihatan menarik. Menurut pemateri ada empat mitos sehingga orang enggan menulis yaitu, pertama karena tidak punya bakat. Bakat menurut KBBI adalah dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang dibawa sejak lahir. Ada orang yang memang memiliki bakat merangkai kata demi kata sehingga menghasilkan tulisan yang menarik untuk di baca. Kedua, tidak ada waktu. Bagi orang-orang yang tidak terbiasa menulis, selalu menjadikan waktu sebagai alasan. Ketiga, malu menulis. Malu ketika tulisannya di kritik oleh orang lain, atau merasa tidak percaya diri ketika tulisannya di baca orang lain. Keempat, adalah takut salah. Saya merasa keempat mitos tersebut nyata bagi saya pribadi. Selama ini kebanyakan berpikir ingin menulis tapi jarang praktek menulis.

Sebelumnya, saya teringat dengan materi yang pernah dibawakan oleh Bapak Dr. Ngainun Naim di acara Diskon (Diskusi Online) yang dilaksanakan oleh LPPM IAIN Ponorogo bahwa berapa kalipun anda ikut pelatihan/workshop tentang menulis, sebanyak apa pun buku tentang menulis yang anda baca, hal tersebut tidak akan membuat anda menjadi seorang penulis, KECUALI anda memaksakan diri untuk praktek menulis.

Bapak Naim adalah salah satu dosen di IAIN Tulungagung, beliau adalah salah satu provokator handal dalam dunia literasi, beliau yang selalu memotivasi kami anggota grup menulis untuk praktek menulis. Salah satunya dengan menulis di blog. Menulis di blog adalah salah satu cara praktek menulis. Selain memberikan motivasi menulis, beliau juga rutin mengirimkan tulisan-tulisan dari blog beliau ke grup menulis. Setiap kali membaca tulisan beliau yang di kirim di grup wa, selalu membangkitkan motivasi saya untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Salah satu tulisan beliau yang berjudul kunci dan alasan membuat saya semakin tersadar bahwa sebanyak apa pun ide/gagasan yang kita miliki jika tidak dituangkan tidak akan mungkin menjadi suatu tulisan. Beliau mengatakan kunci utama dalam menulis yaitu praktek menulis dan hambatan menulis itu satu yaitu ALASAN. Karena berbagai alasan inilah yang menghambat seseorang untuk menulis. Ada saja alasan yang dijadikan sebagai hambatan untuk menulis. Alasan sibuk, alasan tidak ada waktu dan berbagai alasan-alasan yang bermunculan yang membuat menulis hanya sebatas keinginan tanpa adanya praktek menulis.

Sejak memberanikan diri praktek menulis, terkadang muncul rasa malu, ketika tulisan di baca oleh orang lain. Menurut bapak Naim ada empat level malu dalam menulis. Pertama, malu untuk mulai menulis, karena rasa malu inilah yang membuat seseorang tak kunjung menulis. Banyak orang yang memiliki kemauan untuk menulis tapi tidak kunjung menulis karena adanya rasa malu tersebut. Rasa malu tersebut menjadi faktor penghambat sehingga sesorang tak kunjung menulis. Level malu kedua menurut bapak ini sudah lebih baik dari level pertama. Karena pada level ini seseorang sudah mulai menulis, namun muncul rasa malu jika tulisannya di baca oleh orang lain. Malu level ketiga ini sudah lebih baik dari level satu dan dua karena pada level ini adalah menulis tanpa rasa malu. Apapun tanggapan orang lain tentang tulisan kita dijadikan sebagai masukan. Jika di puji akan menambah motivasi, sebaliknya jika di kritik di jadikan pembelajara untuk tulisan berikutnya. Malu level keempat adalah malu jika tidak menulis. Menurut bapak malu level inilah yang tertinggi. Karena jika seorang penulis sudah sampai pada level ini, maka menulis seperti suatu kebutuhan. Jika tidak menulis maka terasa kehilangan sesuatu.

Setalah membaca tulisan tersebut saya merasa masih berada pada level ke dua. Terkadang ketika menulis ada rasa malu merasuki. Tetapi rasa malu tersebut berubah menjadi motivasi ketika melihat orang lain memberikan apresiasi pada tulisan yg di buat, terlebih jika tulisan tersebut memberikan manfaat dan inspirasi bagi orang yang membacanya. Seperti kata pepatah kalau orang lain bisa mengapa kita tidak!!! MENULIS itu MUDAH!!! Yang sulit adalah jika kita hanya berpikir ingin menulis tapi tidak pernah memulai untuk menulis. Selama ini kita kebanyakan berpikir ingin menulis tapi tidak kunjung memulai. 

MENULIS itu MUDAH, tinggal mengambil pulpen kemudian menuangkannya di kertas, atau tinggal membuka laptop/smartphone, kemudian mulailah menulis. Bukankah suatu rangkaian kata dimulai dari rangkaian huruf, rangkaian kalimat dimulai dari rangkaian kata-kata. Jika bukan sekarang menulisnya, kapan lagi??? Jika sudah terbiasa menulis, segala kesulitan akan hilang dengan sendirinya, tutur Bapak Naim dalam salah satu diskusi online. Berkat motivasi dari beliau akhirnya tulisan ini bisa tercipta. Mulailah menulis karena MENULIS itu MUDAH. Yang dibutuhkan adalah praktek menulis. Karena sebanyak apapun ide yang kita miliki tanpa adanya praktek menulis mustahil akan mengasilkan suatu tulisan.

Menutup tulisan sederhana ini, mengutip kata-kata bijak dari Stephen King bahwa “Untuk menjadi seorang penulis, yang diperlukan adalah kemauan untuk menulis kemudian mempraktekkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya, maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya”.

 

Bone, 08 Juli 2020

(Rina Novianty)


Selasa, 02 Juni 2020

Mencoba Memulai Menulis, Bukan Sekedar Berpikir Ingin Menulis

Salah satu kegiatan atau pekerjaan yang menurut saya memiliki tantangan dan bukan hanya sekedar memiliki niat dan kemauan adalah menulis. Menulis mungkin bagi sebagian orang adalah kegiatan atau pekerjaan yang mudah, tetapi tidak bagi saya. Untuk memulai menggoreskan tulisan pada sebuah kertas perlu pemikiran panjang bagi saya karena menulis tidak hanya membutuhkan niat akan tetapi perlu konsistensi dan disiplin. Niat tersebut terkadang naik turun, ditambah kesibukan yang menyebabkan menulis itu menjadi sebatas niat tanpa adanya aksi yang nyata. Seperti kata salah satu guru saya, salah satu penggiat literasi, yang ketika mendengarkan cerita atau membaca tulisan beliau selalu memunculkan semangat untuk memulai menulis. Dia adalah bapak Dr. Ngainun Naim.

Pertama kali bertemu beliau, ketika mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh LPPM IAIN Bone, salah satu lembaga yang ada di kampus tempat saya mengabdi dalam kegiatan workshop writing and editing. Mendengarkan beliau memberikan materi seakan membuka pemikiran saya tentang dunia literasi, akan tetapi lagi-lagi hal tersebut hanya sebatas niat, tanpa adanya aksi nyata dan setelah kegiatan berakhir tak kunjung menghasilkan sebuah tulisan. 

Hari demi hari berlalu, niat yang semula menggebu-gebu untuk menulis seakan sirna termakan waktu, karena berbagai alasan yang membuat tidak adanya aksi nyata yang menghasilkan sebuah tulisan. Tak berselang berapa lama dari kegiatan workshop writing and editing, LPPM IAIN Bone kembali mengadakan kegiatan workhsop menjadi editor jurnal dan buku dengan kembali menghadirkan pemateri Bapak Dr. Ngainun Naim. Tanpa berpikir panjang saya langsung mengisi list pendaftaran yang disediakan oleh panitia, agar bisa mengikuti workshop tersebut, karena pematerinya adalah salah satu inspirator bagi saya yang bisa membangkitkan kembali motivasi dan semangat saya untuk mulai menulis, karena beliau telah memberikan  materi pada kegiatan workshop sebelumnya, dimana beliau merupakan provokator handal dalam hal tulis-menulis. Pada kegiatan workshop sebelumnya, saya sangat terkesan dengan cara beliau membawakan materi dan beliau tak hentinya selalu memberikan motivasi bagi kami para penulis pemula. 

Sabtu, tanggal 23 Nopember 2019 workshop dilaksanakan. Selama kegiatan berlangsung saya begitu bersemangat mendengar pemaparan materi, karena beliau dalam membawakan materi santai tetapi begitu bermakna. Beliau tidak henti-hentinya memberikan kami motivasi untuk menulis. Salah satu harapan saya kala itu setelah mengikuti workshop kedua dengan pemateri yang sama adalah memiliki kembali secercah motivasi untuk mulai merangkai kata demi kata menjadi suatu kalimat, sehingga bisa melahirkan tulisan yang dapat dibaca oleh orang lain, terlebih lagi suatu saat bisa melahirkan tulisan yang best seller (Aamiin). Meskipun workshop telah berakhir, akan tetapi diskusi dengan beliau masih terus terjalin dalam sebuah grup WhatsApp. Grup tersebut dibuat untuk memudahkan kami para penulis pemula untuk mendapat bimbingan dan arahan dari beliau dalam hal tulis menulis dan melihat progres dari para anggota grup. Para anggota grup ditantang untuk membuat satu tulisan di blog setiap minggu. Dan lagi-lagi saya hanya menjadi penonton, ketika ide hanya sebatas ide tanpa adanya aktualisasi maka hal tersebut ibarat hanya sebuah mimpi yang tak kunjung menjadi nyata. Seperti kata beliau seseorang tidak akan bisa melahirkan tulisan hanya dengan sebatas niat. Hal-hal besar selalu dimulai dari hal-hal yang kecil. Sebuah tulisan yang terdiri dari rangkaian kalimat dimulai dari rangkaian kata-kata.

Senin, 01 Juni 2020 bertepatan dengan hari lahir Pancasila, LPPM IAIN Ponorogo mengadakan diskusi online (Diskon) 4 dimana pematerinya ternyata beliau. Tentunya saya begitu bersemangat ingin mengikuti diskusi tersebut karena mengetahui beliau sebagai pemateri. Lagi-lagi harapan terbesar saya setelah mengikuti diskusi tersebut adalah membangkitkan kembali semangat dan motivasi saya untuk memulai menulis, karena beliau selalu sukses menebarkan virus-virus literasi yang membuat orang-orang termotivasi untuk menulis. Salah satu pernyataan beliau yang paling menohok bagi saya adalah jangan pernah membayangkan anda memiliki karya yang banyak kalau anda hanya berpikir akan menulis tapi anda tidak pernah memulai.

Sebagian orang, termasuk saya lebih banyak menghabiskan waktu berpikir tentang keinginan untuk menulis daripada memulai untuk menulis. Seperti kata beliau, sebanyak apa pun buku tentang menulis yang anda baca dan berapa kali pun anda ikut pelatihan menulis, hal itu tidak akan membuat anda menjadi seorang penulis KECUALI anda memaksa diri untuk praktik menulis, jika bukan sekarang, kapan lagi? Untuk itu saya memberanikan diri untuk memulai tulisan yang sangat sederhana ini. Semoga berawal dari tulisan yang sangat sederhana ini, akan menyusul tulisan-tulisan berikutnya (Aamiin).

Menutup tulisan saya, meminjam kutipan dari Pramoedya Ananta Toer bahwa orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Bone, 02 Juni 2020 

Rina Novianty

 

" MANUSIA SPBU "

Sabtu, 18 Juli 2020 saya mengikuti webinar Teras PPA yang diselenggarakan oleh PPA Institut, dengan tema " Manusia SPBU " yang di ...