Rabu, 24 Juni 2020

Mahasiswa (Zaman Old Vs Zaman Now)


Berbicara mengenai dunia mahasiswa tentu banyak hal yang menarik dapat diuraikan. Mahasiswa adalah salah satu generasi penerus bangsa, agent of chage dan social of control. Kondisi mahasiswa zaman sekarang alias mahasiswa “zaman now ” sangat jauh berbeda dengan kondisi mahasiswa zaman dahulu alias mahasiswa “zaman old ”. Hal ini disebabkan karena mahasiswa zaman now telah terjerumus dengan kondisi perkembangan zaman dan arus budaya dari luar dan tidak selektif untuk memilahnya terlebih dahulu.

Sebelumnya saya menguraikan sedikit pengalaman saya sebagai mahasiswa zama old. Ya saya menganggap diri saya sebagai mahasiswa zaman old  karena pada saat saya menjadi mahasiswa bukan smartphone  yang menjadi teman saya, bukan laptop yang menjadi tempat saya menuangkan ide-ide atau mengerjakan tugas, karena pada masa itu yang memiliki laptop masih terhitung jari, kami hanya mengandalkan warnet jika mendapatkan tugas dari dosen. Yang menjadi teman setia saya kala itu hanyalah mesin ketik yang setiap malam menemani.

Mesin ketik adalah alat yang begitu berharga bagi kami mahasiswa MIPA pada saat itu, terutama bagi kami mahasiswa jurusan kimia/pendidikan kimia. Betapa tidak, alat tersebutlah yang menemani malam-malam kami sampai menjelang pagi. Dalam sepekan selain menerima kuliah secara teori, kami juga melakukan kegiatan praktikum. Di semester awal sudah dihadapkan dengan tiga praktikum sekaligus dalam seminggu. Jangan ditanya menghadapi tiga praktikum dalam seminggu bebannya luar biasa, apalagi saya yang notabenenya waktu SMA jarang melakukan praktikum. Sebelum melakukan praktikum ada beberapa hal yang harus dipersiapkan diantaranya harus lulus respon sebelum masuk laboratorium. Lulus respon disini adalah semacam ujian tertulis atau lisan yang diberikan oleh asisten lab terkait praktikum yang akan dilakukan. Respon biasanya dilakukan paling lambat sehari sebelum memasuki laboratorium. Sebelum respon dilakukan terlebih dahulu para praktikan (yang akan melakukan praktikum) diharuskan membuat jurnal yang berhubungan dengan prosedur praktikum mulai dari alat dan bahan yang digunakan serta langkah-langkah yang akan dilakukan. Terbayang ketika harus membuat tiga jurnal dalam sepekan, melakukan tiga kali respon dengan materi yang berbeda dan tentunya tiga buah laporan yang harus dibuat dalam jangka waktu sepekan dengan menggunakan mesin ketik. Yaa....mesin ketik. Terbayang bagaimana rasanya membuat laporan dengan menggunakan mesin ketik yang tidak mempunyai tombol delete, terlebih lagi jika ada asisten lab yang mengharuskan rata kiri-kanan pada laporan tersebut. Sungguh hal tersebut tidaklah mudah dan penuh perjuangan. Sedangkan mahasiswa di zaman now  alias di zaman modern ini dengan mudahnya menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan bantuan teknologi yang semakin hari semakin canggih. Tidak ada lagi penggunaan mesin ketik di zaman sekarang. Mahasiswa seakan dimanjakan dengan teknologi.

Karena dengan perkembangan zaman yang semakin hari semakin modern, mahasiswa zaman now semakin dimudahkan dalam segala hal, misalnya dalam mengerjakan tugas-tugas kelompok dari dosen, mahasiswa zaman now  jika mendapatkan tugas kelompok dari dosen, hal pertama yang biasa dilakukan adalah membuat grup chat di whatsApp, kemudian janjian mengerjakan tugas di cafe yang dilengkapi dengan fasilitas wifi gratis, yang tekadang karena tempatnya yang nyaman, akhirnya keasyikan ngobrol dengan temannya atau keasyikan dengan gadgetnya masing-masing dan akhirnya tugas menjadi terbengkalai. Berbeda dengan mahasiswa zaman old, ketika mendapatkan tugas kelompok, hal yang dilakukan adalah janjian di kampus untuk ke perpustakaan, bahkan ketika tidak ada jam kuliah pun rela nongkrong di perpustakaan kampus demi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Zaman now  sering diidentikkan dengan degradasi moral generasi muda yang tidak dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara bijak dan gagal menyaring kebiasaan buruk dan budaya dari luar, sehingga berdampak pada kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah etika dalam hal berkomunikasi. Ketika saya menjadi mahasiswa, untuk berkomunikasi dengan dosen mengenai jadwal konsultasi baik itu melalui pesan singkat alias SMS atau via telepon diperlukan waktu berpikir yang cukup lama dan panjang, karena takut apa yang akan disampaikan kurang sopan, takut waktunya tidak tepat, takut mengganggu dosen yang lagi istirahat dan berbagai ketakutan-ketakutan lainnya. Terkadang karena takutnya untuk menghubungi dosen maka langkah yang diambil adalah menunggu di depan ruang kerjanya dari pagi sampai sore yang pada akhirnya terkadang tidak mendapatkan apa-apa (dosennya tidak datang).

Akan tetapi jika membandingkan dengan mahasiswa zaman now  dimana etika mahasiswa zaman old  sangatlah berbeda dengan mahasiswa zaman now, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti adanya media sosial, sehingga banyak mahasiswa yang kurang beretika ketika berkomunikasi dengan dosennya. Dengan mudahnya mereka mendapatkan akses informasi tentang apa saja yang mereka inginkan. Mahasiswa zaman now  tidak segan-segan mengirimkan pesan kepada dosennya baik melalui sms, ataupun whatsApp kapan pun mereka inginkan, yang terkadang isi pesannya seperti pesan untuk temannya, dan bahkan tidak mengkondisikan waktu yang tepat. Mahasiswa zaman old  sangat hormat ke dosen, karena dosen adalah orang yang berjasa dalam memberikan ilmu ke mahasiswa, sedangkan mahasiswa zaman now, dosen memang di hormati, terlebih ketika bertemu di kelas atau di lingkungan kampus, namun saat di dunia maya terkadang ada mahasiswa yang mengumpat ke dosen mereka dengan berbagai alasan.

 Oleh karenanya meskipun kita hidup di zaman sekarang, seharusnya kita bisa menerapkan apa yang dilakukan oleh orang pada zaman dahulu, terlebih mengenai persoalan etika. Karena manusia sebagai makhluk sosial memiliki nilai dan norma yang harus di taati. Karena etika sangat berperan penting dalam kehidupan sosial manusia yaitu ketika kita menginginkan dihormati dan dihargai oleh orang lain, maka terlebih dahulu kita harus belajar menghargai dan menghormati orang lain. Oleh karena itu jadilah manusia yang memiliki etika, bermoral dan saling menghargai antar sesama manusia dan tetap membuka diri terhadap perkembangan zaman. Menutup tulisan ini ada kata-kata bijak yang mengatakan belajarlah adab sebelum ilmu, karena ilmu tanpa adab hanya akan membuatmu sombong, ingatlah iblis, ilmunya tinggi tapi dilaknat oleh Allah swt karena kesombongannya. Wallahu A'lam Bishawab.

Bone, 24 Juni 2020

(Rina Novianty)

 

 

 

Rabu, 17 Juni 2020

Hasil Tidak Akan Mengkhianati Proses


Tidak pernah terbayangkan dalam benak saya akan bergelut dalam bidang pendidikan dalam hal ini berprofesi sebagai seorang dosen. Karena saya terlahir dari sebuah keluarga yang notabenenya dari kalangan pendidik. Kedua orang tua saya adalah seorang guru yang tentunya saya merasakan bagaimana menjadi anak seorang guru, yang sedari kecil selalu mengikut orang tua ke sekolah karena tidak ada yang menjaga saya di rumah. Karena itulah saya tidak pernah bercita-cita ingin menjadi seorang guru, karena menurut saya kala itu tugas dan tanggung jawab seorang guru itu berat, karena sehari-hari saya melihat perjuangan kedua orang tua saya. Sedari kecil saya hanya bercita-cita suatu saat nanti ingin memakai jas putih yang di dadanya biasa tergantung stetoskop. Yaa cita-cita kecil saya adalah menjadi seorang dokter. Cita-cita tersebut adalah cita-cita kebanyakan anak di masa saya. Seiring berjalannya waktu ternyata takdir berkata lain. Takdir mengantarkan saya tidak bisa terlepas dari bidang pendidikan.

Hal ini bermula ketika di akhir menyelesaikan jenjang pendidikan tingkat menengah atas di Tahun 2005, ada pendaftaran jalur bebas tes dari dua kampus ternama di Sulawesi Selatan. Kalau sekarang jalur tersebut bernama jalur undangan. Tentunya saya tidak ingin melewatkan kesempatan begitu saja, karena kebetulan pada saat SMA nilai saya selalu berada dalam 3 besar. Ajakan teman-teman membuat saya terdorong untuk mengikuti jalur tersebut karena pensyaratan pada masa itu hanya mengirimkan nilai rapor dari kelas satu sampai kelas tiga. Pada saat itu saya mendaftar di dua kampus sekaligus, saya mengambil jurusan pendidikan kimia di kampus UNM dan kedokteran di kampus Unhas. Meskipun pada awalnya saya tidak memiliki keinginan untuk menjadi guru, akan tetapi karena adanya peluang dikampus orange tersebut, maka saya ikut mendaftar. Saya mengambil pendidikan kimia bukan tanpa alasan, karena semasa SMA saya senang belajar kimia, selain itu dikarenakan karena guru saya dalam memaparkan materi mudah di pahami. Karena saya juga  tetap pada cita-cita awal saya maka dari itu saya memberanikan diri untuk mengikuti jalur yang sama dikampus merah, meskipun pada saat itu dalam hati ada rasa pesimis menggrogoti. Dan waktu berjalan, pengumumannya pun keluar dan ternyata saya lulus di kampus UNM, sambil tetap menanti pengumuman dari kampus Unhas, dan alhasil sesuai dengan prediksi awal saya belum beruntung di kampus merah tersebut.

Takdir mengantarkan saya untuk melanjutkan pendidikan di salah satu kampus pencetak guru tersebut. Tahun 2009 saya menyelesaikan studi S1 saya, dan kebetulan di tahun yang sama ada pendaftaran cpns guru di berbagai formasi, dan saya pun tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Setelah mengikuti tes, pengumuman keluar, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Takdir belum berpihak kepada saya untuk lulus menjadi cpns. Oleh karena itu di Tahun 2010 saya melanjutkan pendidikan S2 di kampus dan jurusan yang sama dengan sebelumnya. Selama saya kuliah S2 saya sempat mengikuti kembali tes cpns sesuai dengan bidang saya, akan tetapi hasilnya masih sama dengan sebelumnya. Tahun 2012 saya menyelesaikan studi S2 saya dan setelah itu saya mencari pengalaman mengajar di beberapa kampus di Bone, kampung halaman saya sendiri. Salah satunya tempat saya mengabdi sekarang.

Tahun 2013, kembali di buka pendaftaran cpns, karena pada saat itu saya telah mengantongi ijazah S2, maka saya mencoba peruntukan untuk formasi dosen. Akan tetapi formasi saya pada saat itu hanya ada di beberapa pulau di luar Sulawesi, yaitu di kampus Nusa Cendana  Kupang, Nusa Tenggara Timur. Setelah berkonsultasi dengan kedua orang tua akhirnya saya mendapatkan izin untuk mendaftar di sana. Akhirnya terbanglah saya seorang diri ke Kupang untuk mengikuti tes, beruntungnya pada saat itu ada seorang teman yang tinggal di sana dan siap menampung saya selama berada di Kupang. Tes berlangsung alot, karena pada saat itu masih menggunakan sistem paper pencil. Dan lagi-lagi hasilnya tidak sesuai dengan harapan, saya belum berhasil lulus menjadi calon pegawai negeri sipil. Akan tetapi hal tersebut bukan menjadi alasan untuk saya berputus asa. Saya kembali menjalani hari-hari seperti biasa, dan kembali melakukan aktivitas seperti biasanya yaitu kembali mengajar sebagai dosen Luar Biasa. Di Tahun berikutnya tepatya Tahun 2014, kembali di buka pendaftaran cpns, karena sebelumnya saya telah mencoba peruntukan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan baik formasi guru maupun dosen, maka di Tahun 2014 saya ingin mencoba peruntukan di Kementrian Agama. Ternyata formasi Kemenag pada saat itu keluar di detik-detik terakhir waktu pendaftran. Dipikiran saya pada saat itu jika formasi saya tidak ada di Kemenag, maka tahun in saya akan melewatkan kesempatan untuk mendaftar menjadi cpns karena semua instansi telah tertutup jadwal pendaftarannya. Ternyata seperti kata pepatah kalau rejeki tidak akan lari kemana,  salah satu Instansi di bawah naungan Kemenag tepatnya kampus STAIN Watampone  sekarang sudah beralih nama menjadi IAIN Bone, pada saat itu membuka formasi semua jurusan. Formasi tersebut seakan menjadi angin segar bagi saya karena saya kembali memiliki kesempatan untuk menjadi calon pegawai negeri sipil. Karena formasinya semua jurusan jadi peminatnya cukup banyak pada waktu itu untuk memperebutkan 4 formasi yang disediakan.

Tahun 2014 adalah Tahun pertama diadakan tes cpns dengan sistem CAT. Tentunya sistem CAT berbeda dengan sistem paper pencil. Dengan sistem CAT diharuskan memenuhi nilai ambang batas/nilai standar yang telah di tetapkan yang terdiri dari 3 komponen yaitu Tes Kemampuan Pribadi (TKP), Tes Intelegensi Umum (TIU) dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Pada saat kali pertama tes dengan sistem CAT, terbilang sedikit yang memenuhi kriteria passing grade karena banyak formasi yang kosong karena kurangnya peserta yang memenuhi nilai ambang batas yang telah ditetapkan. Pada saat itu yang memenuhi nilai standar atau passing grade untuk formasi saya ada 5 orang, berarti satu orang akan gugur pada tahap kedua yaitu tahap TKB (Tes Komptensi Bidang). Pengumuman hasil TKB sekaligus pengumuman final pada saat itu tepat di akhir Tahun 2014. Ternyata Tuhan memberikan hadiah tak terduga di akhir Tahun, karena salah satu nama yang lulus pada formasi tersebut adalah nama saya. Masih tergambar dengan jelas pengumuman saat itu, saya sedang mengajar di salah salah satu kampus swasta yang ada di Bone, tiba-tiba hp saya berdering, ternyata salah seorang teman menginformasikan untuk mengecek pengumuman, setelah saya mengecek pengumuman tersebut ternyata betul nama saya ada didaftar nama-nama peserta yang lulus. Bahagia tak terhingga pada saat itu, sampai-sampai saya tidak konsentrasi mengajar karena tidak sabar ingin pulang ke rumah untuk menyampaikan kabar bahagia ini kepada kedua orang tua saya.

Tahun 2014  menjadi sejarah dalam catatan perjalanan saya, betapa tidak setelah saya mendaftar cpns berkali-kali mulai dari Tahun 2009 dari formasi guru sampai formasi dosen, dan sampai melanglang buana mencari peruntukan di kampung orang ternyata saya ditakdirkan untuk mengabdi di kampung halaman sendiri. Tahun 2014 Tuhan mengabulkan doa saya dan doa kedua orang tua saya. Perjuangan untuk mengikuti tes cpns di Tahun 2014 memberikan banyak cerita dibaliknya. Ada banyak hikmah dari kegagalan tes cpns sebelumnya. Pertama, Tahun 2014 dimana untuk pertama kalinya dilakukan tes cpns dengan sistem CAT. Kedua, Adanya formasi semua jurusan yang di buka di kampus STAIN Watampone, sehingga memungkinkan saya untuk mendaftar dikampus tersebut, yang notabenenya saya alumni pendidikan kimia. Ketiga, yang paling berharga adalah saya tidak perlu jauh dari kedua orang tua saya karena saya lulus dan bisa mengabdi di kampung halaman sendiri. Singkat cerita jangan pernah lelah untuk berusaha dan berjuang, selama kita masih diberikan kesempatan, karena kita tidak pernah tahu kapan Tuhan mengabulkan keinginan dan harapan kita.

Seperti ungkapan bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses, untuk mendapatkan sesuatu harus disertai dengan kerja keras, hidup ini berproses tidak ada yang instan. Ibarat untuk memakan kacang pun terlebih dahulu kita harus membuka kulitnya, begitupun dengan kehidupan untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan harus disertai dengan usaha dan doa. Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, mengenai hasil kita hanya bisa berpasrah menunggu ketetapan Tuhan. Kegagalan yang dialami dijadikan sebagai cambuk untuk kita terus belajar, bukan untuk berputus asa. Kegagalan bukanlah hal yang memalukan. Yang memalukan adalah menyerah di saat baru pertama kali mengalami kegagalan. Oleh karena itu, kita harus tetap mencoba dan mencoba sampai Tuhan berkata saat inilah waktunya. Karena bisa saja kegagalan hari ini terdapat banyak hikmah di dalamnya.

Menutup cerita ini ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa orang yang hebat bukan dia yang mencapai keberhasilan sekali berusaha. Melainkan dia yang terus bangkit dan tidak kapok berusaha meski sudah berkali-kali gagal.

Bone, 17 Juni 2020

(Rina Novianty)


Rabu, 10 Juni 2020

Covid-19, Musibah atau Anugerah?????

Awal tahun 2020 dunia digemparkan dengan adanya wabah virus corona (covid-19), yang diperkirakan berasal dari kota Wuhan Provinsi Hubei, Tiongkok. Salah satu Negara yang terdampak covid-19 adalah Indonesia. Indonesia sendiri mengumumkan adanya kasus positif covid-19 pada Bulan Maret Tahun 2020. Di saat kasus covid-19 meningkat hari demi hari, ada jutaan manusia diseluruh dunia yang terpapar virus tersebut. Banyak diantara kita bertanya-tanya inikah musibah atau anugerah? Inikah bencana atau rencana Allah? Inikah azab atau cara Allah menguji manusia? Atau cara Allah mengajarkan kepada manusia tentang alam semesta, tentang pentingnya bersyukur?

Covi-19 hadir ditengah masyarakat membawa dampak bagi kehidupan manusia. Banyak pihak yang merasa dirugikan dengan mewabahnya virus ini. Virus ini memberikan berbagai dampak bagi kehidupan di berbagai sektor. Dari sektor ekonomi terjadi perlambatan pertumbuhan, banyak perusahan merugi, terjadi phk secara besar-besaran, kondisi perekonomian pun kena imbasnya. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, apabila pandemi ini masih bertahan antara 3 - 6 Bulan lagi maka situasi akan semakin memburuk, dimana pertumbuhan ekonomi diperkirankan pada kisaran 2,5% bahkan 0% (Suaramerdeka.com). Berdasarkan data per Tanggal 03 Juli 2020 dari gugus tugas percepatan penanganan covid-19 jumlah postif corona di Indonesia mencapai 60.695 kasus dan yang meninggal dunia mencapai 3.036 kasus.

Selain sektor ekonomi, sektor pendidikan pun terkena dampaknya, terjadi perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan. Keputusan pemerintah menerapkan kebijakan work from home (WFH), membuat bebagai pihak tidak siap. Ketidaksiapan lembaga pendidikan menjadi faktor utama terjadinya berbagai masalah dalam dunia pendidikan. Para pelaku pendidikan di tuntut untuk melakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang biasanya dilakukan di kelas secara tatap muka kini berubah menjadi pembelajaran berbasis dalam jaringan (online).  Hal ini terasa menyulitkan di awal diterapkannya pembelajaran daring, karena belum terbiasa dengan hal tersebut. Terjadi transformasi secara cepat dalam dunia pendidikan.

Peralihan proses pembelajaran dari luar jaringan menjadi dalam jaringan memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur tersebut agar proses pembelajaran tetap terlaksana seperti biasanya. Para pelaku pendidikan dituntut untuk memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran sebenarnya bukan tanpa masalah, banyak faktor yang menghambat pelaksanaan proses pembelajaran tersebut diantanya penguasaan teknologi yang masih rendah bagi sebagian pendidik maupun peserta didik, jaringan internet yang tidak merata, keterbatasan sarana dan prasarana,  biaya, dan ketidaksiapan orang tua menjadi pengajar/pendidik di masa work from home.

Model pembelajaran dalam jaringan (online), sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pendidikan, karena sebenarnya di beberapa perguruan tinggi sudah menerapkan sistem tersebut, akan tetapi untuk tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah belum begitu populer sehingga memerlukan persiapan agar dapat berjalan secara efektif. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lambat laun model pembelajaran dalam jaringan akan menjadi model pembelajaran di era industri 4.0.

Setiap perubahan yang terjadi akan memberikan dampak, ibarat mata uang yang memiliki dua sisi, sisi negatif maupun sisi positif. Menyikapi kasus tersebut pemerintah memunculkan berbagai kebijakan. mulai dari kebijakan work from home (WFH), sosial dan physical distancing, sampai pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kebijakan-kebijakan tersebut diambil oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Seluruh kegiatan belajar mengajar dan kerja dilakukan dari rumah. Selain itu, masyarakat juga di tuntut untuk menghindari aktivitas yang melibatkan banyak orang termasuk dalam hal beribadah. Dengan mewabahnya covid-19 ini, semua orang harus mengikuti perubahan tersebut. Kehidupan sosial manusia mengalami perubahan, dimana manusia yang kodratnya sebagai makhluk sosial merasa ruang geraknya dibatasi.

Apakah ini termasuk musibah?? Atau hadirnya covid-19 ini memberikan hikmah yang luar biasa??

Sebagai manusia kita patut bersyukur, adanya covid-19 yang menggemparkan seluruh dunia, terlepas dari apakah adanya virus tersebut karena faktor kepentingan politik atau faktor pertarungan ekonomi; faktor  by design  atau hasil rekayasa tangan-tangan manusia atau bukan; atau karena faktor penyebab lainnya, yang jelas hal tersebut telah membuat manusia tersadar bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah dan memiliki keterbatasan.  Alhasil semakin banyak orang yang menyadari pentingnya menjaga alam, dan pentingnya beribadah kepada Allah swt serta pentingnya melakukan introspeksi diri. Akhirnya bumi pun memiliki waktu untuk beristirahat dari berbagai paparan polusi yang diakibatkan oleh ulah manusia itu sendiri serta perubahan-perubahan derastis yang terjadi selama masa pandemi. Dan kesemuanya itu adalah anugerah. Ya sebuah anugerah!!!!!

Betapa tidak, begitu banyak hikmah yang dapat dipetik dari musibah ini.  Pertama, mengingatkan kepada manusia, bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, ketika covid-19 mewabah dan menyebar kemana-mana manusia menjadi tidak berdaya, banyak manusia yang terpapar dan bahkan kehilangan nyawa.  Manusia tidak berdaya ketika Allah menurunkan penyakit yang bernama covid-19. Oleh karena itu manusia hanya bisa  berusaha dan berdoa agar terhindar dari wabah tersebut dan menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah semata.

Kedua, selama kebijakan work from home (WFH) diberlakukan, aktivitas sehari-hari lebih banyak dihabiskan di rumah. Seorang yang memiliki segudang aktivitas di hari-hari sebelumnya, akhirnya memiliki kesempatan lebih banyak bersama keluarga, seperti wanita karier misalnya, yang biasanya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor atau di tempatnya berkerja akhirnya selama masa pandemi bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga, bisa menjadi guru bagi anak-anak mereka, yang selama ini waktu seperti itu akan sulit di dapatkan dalam keadaan normal (sebelum adanya covid-19). Selain itu, selama masa pandemi yang mengharuskan bekerja dari rumah, maka seseorang dapat dengan mudah memperoleh pengetahuan dan menambah wawasan mengenai berbagai hal terutama yang berkaitan dengan covid-19 karena banyaknya bermunculan seminar-seminar online gratis baik lokal, nasional maupun internasional.

Ketiga, adanya wabah covid-19 membuat manusia menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan, karena dapat melindunginya dari berbagai penyakit. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan masalah kebersihan. Semenjak covid-19 menyebar, kita senangtiasa dianjurkan untuk mencuci tangan dengan sabun atau memakai handsanitizer, memakai masker jika keluar rumah. Hal tersebut sejalan apa yang dianjurkan dalam Islam tentang pentingnya memelihara kebersihan dan kesucian seperti yang tertuang di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Dari Abu Malik Al-Ash’ari ra, bahwa Rasulullah SAW mengatakan, “Kebersihan adalah sebagian dari iman”.

Keempat, tidak dipungkiri mewabahnya covid-19 ini menimbulkan banyak korban baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga meningkatkan solidaritas di kalangan masayarakat. Banyak masyarakat bersimpati dan bahu-membahu membantu mereka yang terdampak covid-19. Berbagai aksi yang dilakukan untuk mengurangi beban saudara-saudara kita yang terdampak. Hal tersebut tentunya akan memperkuat persatuan dan kesatuan diantara sesama manusia. Sebagaimana Firman Allah dalam Surah Al-Maaida Ayat 2 yang berbunyi “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya”.

Semoga wabah covid-19 ini segera berlalu dan kehidupan kembali berjalan normal seperti sedia kala dan semoga kita semua menjadi hamba yang senangtiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya dan bersabar atas segala musibah yang menimpa kita semua. Aamiin.

Menutup tulisan ini, mengutip kata-kata bijak dari Tere Liye yang mengatakan bahwa "Hidup itu dipergilirkan satu sama lain. Kadang kita di atas kadang kita di bawah. kadang kita tertawa lantas kemudian kita terdiam bahkan menangis. Itulah Kehidupan. Barang siapa yang sabar maka semua bisa dilewati dengan hati lapang". Wallahu A'lam Bishawab.

Bone, 10 Juni 2020

(Rina Novianty)





Selasa, 02 Juni 2020

Mencoba Memulai Menulis, Bukan Sekedar Berpikir Ingin Menulis

Salah satu kegiatan atau pekerjaan yang menurut saya memiliki tantangan dan bukan hanya sekedar memiliki niat dan kemauan adalah menulis. Menulis mungkin bagi sebagian orang adalah kegiatan atau pekerjaan yang mudah, tetapi tidak bagi saya. Untuk memulai menggoreskan tulisan pada sebuah kertas perlu pemikiran panjang bagi saya karena menulis tidak hanya membutuhkan niat akan tetapi perlu konsistensi dan disiplin. Niat tersebut terkadang naik turun, ditambah kesibukan yang menyebabkan menulis itu menjadi sebatas niat tanpa adanya aksi yang nyata. Seperti kata salah satu guru saya, salah satu penggiat literasi, yang ketika mendengarkan cerita atau membaca tulisan beliau selalu memunculkan semangat untuk memulai menulis. Dia adalah bapak Dr. Ngainun Naim.

Pertama kali bertemu beliau, ketika mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh LPPM IAIN Bone, salah satu lembaga yang ada di kampus tempat saya mengabdi dalam kegiatan workshop writing and editing. Mendengarkan beliau memberikan materi seakan membuka pemikiran saya tentang dunia literasi, akan tetapi lagi-lagi hal tersebut hanya sebatas niat, tanpa adanya aksi nyata dan setelah kegiatan berakhir tak kunjung menghasilkan sebuah tulisan. 

Hari demi hari berlalu, niat yang semula menggebu-gebu untuk menulis seakan sirna termakan waktu, karena berbagai alasan yang membuat tidak adanya aksi nyata yang menghasilkan sebuah tulisan. Tak berselang berapa lama dari kegiatan workshop writing and editing, LPPM IAIN Bone kembali mengadakan kegiatan workhsop menjadi editor jurnal dan buku dengan kembali menghadirkan pemateri Bapak Dr. Ngainun Naim. Tanpa berpikir panjang saya langsung mengisi list pendaftaran yang disediakan oleh panitia, agar bisa mengikuti workshop tersebut, karena pematerinya adalah salah satu inspirator bagi saya yang bisa membangkitkan kembali motivasi dan semangat saya untuk mulai menulis, karena beliau telah memberikan  materi pada kegiatan workshop sebelumnya, dimana beliau merupakan provokator handal dalam hal tulis-menulis. Pada kegiatan workshop sebelumnya, saya sangat terkesan dengan cara beliau membawakan materi dan beliau tak hentinya selalu memberikan motivasi bagi kami para penulis pemula. 

Sabtu, tanggal 23 Nopember 2019 workshop dilaksanakan. Selama kegiatan berlangsung saya begitu bersemangat mendengar pemaparan materi, karena beliau dalam membawakan materi santai tetapi begitu bermakna. Beliau tidak henti-hentinya memberikan kami motivasi untuk menulis. Salah satu harapan saya kala itu setelah mengikuti workshop kedua dengan pemateri yang sama adalah memiliki kembali secercah motivasi untuk mulai merangkai kata demi kata menjadi suatu kalimat, sehingga bisa melahirkan tulisan yang dapat dibaca oleh orang lain, terlebih lagi suatu saat bisa melahirkan tulisan yang best seller (Aamiin). Meskipun workshop telah berakhir, akan tetapi diskusi dengan beliau masih terus terjalin dalam sebuah grup WhatsApp. Grup tersebut dibuat untuk memudahkan kami para penulis pemula untuk mendapat bimbingan dan arahan dari beliau dalam hal tulis menulis dan melihat progres dari para anggota grup. Para anggota grup ditantang untuk membuat satu tulisan di blog setiap minggu. Dan lagi-lagi saya hanya menjadi penonton, ketika ide hanya sebatas ide tanpa adanya aktualisasi maka hal tersebut ibarat hanya sebuah mimpi yang tak kunjung menjadi nyata. Seperti kata beliau seseorang tidak akan bisa melahirkan tulisan hanya dengan sebatas niat. Hal-hal besar selalu dimulai dari hal-hal yang kecil. Sebuah tulisan yang terdiri dari rangkaian kalimat dimulai dari rangkaian kata-kata.

Senin, 01 Juni 2020 bertepatan dengan hari lahir Pancasila, LPPM IAIN Ponorogo mengadakan diskusi online (Diskon) 4 dimana pematerinya ternyata beliau. Tentunya saya begitu bersemangat ingin mengikuti diskusi tersebut karena mengetahui beliau sebagai pemateri. Lagi-lagi harapan terbesar saya setelah mengikuti diskusi tersebut adalah membangkitkan kembali semangat dan motivasi saya untuk memulai menulis, karena beliau selalu sukses menebarkan virus-virus literasi yang membuat orang-orang termotivasi untuk menulis. Salah satu pernyataan beliau yang paling menohok bagi saya adalah jangan pernah membayangkan anda memiliki karya yang banyak kalau anda hanya berpikir akan menulis tapi anda tidak pernah memulai.

Sebagian orang, termasuk saya lebih banyak menghabiskan waktu berpikir tentang keinginan untuk menulis daripada memulai untuk menulis. Seperti kata beliau, sebanyak apa pun buku tentang menulis yang anda baca dan berapa kali pun anda ikut pelatihan menulis, hal itu tidak akan membuat anda menjadi seorang penulis KECUALI anda memaksa diri untuk praktik menulis, jika bukan sekarang, kapan lagi? Untuk itu saya memberanikan diri untuk memulai tulisan yang sangat sederhana ini. Semoga berawal dari tulisan yang sangat sederhana ini, akan menyusul tulisan-tulisan berikutnya (Aamiin).

Menutup tulisan saya, meminjam kutipan dari Pramoedya Ananta Toer bahwa orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Bone, 02 Juni 2020 

Rina Novianty

 

" MANUSIA SPBU "

Sabtu, 18 Juli 2020 saya mengikuti webinar Teras PPA yang diselenggarakan oleh PPA Institut, dengan tema " Manusia SPBU " yang di ...