Tidak pernah terbayangkan dalam benak saya akan bergelut dalam bidang pendidikan dalam hal ini berprofesi sebagai seorang dosen. Karena saya terlahir dari sebuah keluarga yang notabenenya dari kalangan pendidik. Kedua orang tua saya adalah seorang guru yang tentunya saya merasakan bagaimana menjadi anak seorang guru, yang sedari kecil selalu mengikut orang tua ke sekolah karena tidak ada yang menjaga saya di rumah. Karena itulah saya tidak pernah bercita-cita ingin menjadi seorang guru, karena menurut saya kala itu tugas dan tanggung jawab seorang guru itu berat, karena sehari-hari saya melihat perjuangan kedua orang tua saya. Sedari kecil saya hanya bercita-cita suatu saat nanti ingin memakai jas putih yang di dadanya biasa tergantung stetoskop. Yaa cita-cita kecil saya adalah menjadi seorang dokter. Cita-cita tersebut adalah cita-cita kebanyakan anak di masa saya. Seiring berjalannya waktu ternyata takdir berkata lain. Takdir mengantarkan saya tidak bisa terlepas dari bidang pendidikan.
Hal ini bermula ketika di akhir menyelesaikan jenjang pendidikan tingkat menengah atas di Tahun 2005, ada pendaftaran jalur bebas tes dari dua kampus ternama di Sulawesi Selatan. Kalau sekarang jalur tersebut bernama jalur undangan. Tentunya saya tidak ingin melewatkan kesempatan begitu saja, karena kebetulan pada saat SMA nilai saya selalu berada dalam 3 besar. Ajakan teman-teman membuat saya terdorong untuk mengikuti jalur tersebut karena pensyaratan pada masa itu hanya mengirimkan nilai rapor dari kelas satu sampai kelas tiga. Pada saat itu saya mendaftar di dua kampus sekaligus, saya mengambil jurusan pendidikan kimia di kampus UNM dan kedokteran di kampus Unhas. Meskipun pada awalnya saya tidak memiliki keinginan untuk menjadi guru, akan tetapi karena adanya peluang dikampus orange tersebut, maka saya ikut mendaftar. Saya mengambil pendidikan kimia bukan tanpa alasan, karena semasa SMA saya senang belajar kimia, selain itu dikarenakan karena guru saya dalam memaparkan materi mudah di pahami. Karena saya juga tetap pada cita-cita awal saya maka dari itu saya memberanikan diri untuk mengikuti jalur yang sama dikampus merah, meskipun pada saat itu dalam hati ada rasa pesimis menggrogoti. Dan waktu berjalan, pengumumannya pun keluar dan ternyata saya lulus di kampus UNM, sambil tetap menanti pengumuman dari kampus Unhas, dan alhasil sesuai dengan prediksi awal saya belum beruntung di kampus merah tersebut.
Takdir mengantarkan saya untuk melanjutkan pendidikan di salah satu kampus pencetak guru tersebut. Tahun 2009 saya menyelesaikan studi S1 saya, dan kebetulan di tahun yang sama ada pendaftaran cpns guru di berbagai formasi, dan saya pun tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Setelah mengikuti tes, pengumuman keluar, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Takdir belum berpihak kepada saya untuk lulus menjadi cpns. Oleh karena itu di Tahun 2010 saya melanjutkan pendidikan S2 di kampus dan jurusan yang sama dengan sebelumnya. Selama saya kuliah S2 saya sempat mengikuti kembali tes cpns sesuai dengan bidang saya, akan tetapi hasilnya masih sama dengan sebelumnya. Tahun 2012 saya menyelesaikan studi S2 saya dan setelah itu saya mencari pengalaman mengajar di beberapa kampus di Bone, kampung halaman saya sendiri. Salah satunya tempat saya mengabdi sekarang.
Tahun 2013, kembali di buka pendaftaran cpns, karena pada saat itu saya telah mengantongi ijazah S2, maka saya mencoba peruntukan untuk formasi dosen. Akan tetapi formasi saya pada saat itu hanya ada di beberapa pulau di luar Sulawesi, yaitu di kampus Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur. Setelah berkonsultasi dengan kedua orang tua akhirnya saya mendapatkan izin untuk mendaftar di sana. Akhirnya terbanglah saya seorang diri ke Kupang untuk mengikuti tes, beruntungnya pada saat itu ada seorang teman yang tinggal di sana dan siap menampung saya selama berada di Kupang. Tes berlangsung alot, karena pada saat itu masih menggunakan sistem paper pencil. Dan lagi-lagi hasilnya tidak sesuai dengan harapan, saya belum berhasil lulus menjadi calon pegawai negeri sipil. Akan tetapi hal tersebut bukan menjadi alasan untuk saya berputus asa. Saya kembali menjalani hari-hari seperti biasa, dan kembali melakukan aktivitas seperti biasanya yaitu kembali mengajar sebagai dosen Luar Biasa. Di Tahun berikutnya tepatya Tahun 2014, kembali di buka pendaftaran cpns, karena sebelumnya saya telah mencoba peruntukan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan baik formasi guru maupun dosen, maka di Tahun 2014 saya ingin mencoba peruntukan di Kementrian Agama. Ternyata formasi Kemenag pada saat itu keluar di detik-detik terakhir waktu pendaftran. Dipikiran saya pada saat itu jika formasi saya tidak ada di Kemenag, maka tahun in saya akan melewatkan kesempatan untuk mendaftar menjadi cpns karena semua instansi telah tertutup jadwal pendaftarannya. Ternyata seperti kata pepatah kalau rejeki tidak akan lari kemana, salah satu Instansi di bawah naungan Kemenag tepatnya kampus STAIN Watampone sekarang sudah beralih nama menjadi IAIN Bone, pada saat itu membuka formasi semua jurusan. Formasi tersebut seakan menjadi angin segar bagi saya karena saya kembali memiliki kesempatan untuk menjadi calon pegawai negeri sipil. Karena formasinya semua jurusan jadi peminatnya cukup banyak pada waktu itu untuk memperebutkan 4 formasi yang disediakan.
Tahun 2014 adalah Tahun pertama diadakan tes cpns dengan sistem CAT. Tentunya sistem CAT berbeda dengan sistem paper pencil. Dengan sistem CAT diharuskan memenuhi nilai ambang batas/nilai standar yang telah di tetapkan yang terdiri dari 3 komponen yaitu Tes Kemampuan Pribadi (TKP), Tes Intelegensi Umum (TIU) dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Pada saat kali pertama tes dengan sistem CAT, terbilang sedikit yang memenuhi kriteria passing grade karena banyak formasi yang kosong karena kurangnya peserta yang memenuhi nilai ambang batas yang telah ditetapkan. Pada saat itu yang memenuhi nilai standar atau passing grade untuk formasi saya ada 5 orang, berarti satu orang akan gugur pada tahap kedua yaitu tahap TKB (Tes Komptensi Bidang). Pengumuman hasil TKB sekaligus pengumuman final pada saat itu tepat di akhir Tahun 2014. Ternyata Tuhan memberikan hadiah tak terduga di akhir Tahun, karena salah satu nama yang lulus pada formasi tersebut adalah nama saya. Masih tergambar dengan jelas pengumuman saat itu, saya sedang mengajar di salah salah satu kampus swasta yang ada di Bone, tiba-tiba hp saya berdering, ternyata salah seorang teman menginformasikan untuk mengecek pengumuman, setelah saya mengecek pengumuman tersebut ternyata betul nama saya ada didaftar nama-nama peserta yang lulus. Bahagia tak terhingga pada saat itu, sampai-sampai saya tidak konsentrasi mengajar karena tidak sabar ingin pulang ke rumah untuk menyampaikan kabar bahagia ini kepada kedua orang tua saya.
Tahun 2014 menjadi sejarah dalam catatan perjalanan saya, betapa tidak setelah saya mendaftar cpns berkali-kali mulai dari Tahun 2009 dari formasi guru sampai formasi dosen, dan sampai melanglang buana mencari peruntukan di kampung orang ternyata saya ditakdirkan untuk mengabdi di kampung halaman sendiri. Tahun 2014 Tuhan mengabulkan doa saya dan doa kedua orang tua saya. Perjuangan untuk mengikuti tes cpns di Tahun 2014 memberikan banyak cerita dibaliknya. Ada banyak hikmah dari kegagalan tes cpns sebelumnya. Pertama, Tahun 2014 dimana untuk pertama kalinya dilakukan tes cpns dengan sistem CAT. Kedua, Adanya formasi semua jurusan yang di buka di kampus STAIN Watampone, sehingga memungkinkan saya untuk mendaftar dikampus tersebut, yang notabenenya saya alumni pendidikan kimia. Ketiga, yang paling berharga adalah saya tidak perlu jauh dari kedua orang tua saya karena saya lulus dan bisa mengabdi di kampung halaman sendiri. Singkat cerita jangan pernah lelah untuk berusaha dan berjuang, selama kita masih diberikan kesempatan, karena kita tidak pernah tahu kapan Tuhan mengabulkan keinginan dan harapan kita.
Seperti ungkapan bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses, untuk mendapatkan sesuatu harus disertai dengan kerja keras, hidup ini berproses tidak ada yang instan. Ibarat untuk memakan kacang pun terlebih dahulu kita harus membuka kulitnya, begitupun dengan kehidupan untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan harus disertai dengan usaha dan doa. Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, mengenai hasil kita hanya bisa berpasrah menunggu ketetapan Tuhan. Kegagalan yang dialami dijadikan sebagai cambuk untuk kita terus belajar, bukan untuk berputus asa. Kegagalan bukanlah hal yang memalukan. Yang memalukan adalah menyerah di saat baru pertama kali mengalami kegagalan. Oleh karena itu, kita harus tetap mencoba dan mencoba sampai Tuhan berkata saat inilah waktunya. Karena bisa saja kegagalan hari ini terdapat banyak hikmah di dalamnya.
Menutup cerita ini ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa orang yang hebat bukan dia yang mencapai keberhasilan sekali berusaha. Melainkan dia yang terus bangkit dan tidak kapok berusaha meski sudah berkali-kali gagal.
Bone, 17 Juni 2020
(Rina Novianty)

Selamat dan sukses atas perjuangannya. Termasuk kesuksesan menceritakan kembali pengalaman hidup. Mantap.
BalasHapusmakasih bu...lama berpikir tuk menuangkan cerita ini..tulisannya blm rapi.. :D
HapusSemangat ibu dosen ....
BalasHapussemangat untuk semua
Hapushebat dinda
BalasHapusmakasih bu.. mohon bimbingannya
HapusTerharu ka baca Ki kak (Rahma)
BalasHapushahaahhaa...cerita masa lalu
HapusAllah selalu bersama orang-orang yg sabar
BalasHapusbetul bu...selama ada ikhtiar dan doa
HapusSama cita² masa laluta' kak.. Cita² sejuta umat 😂😂😂
BalasHapusbaa cita-ta sejuta umat...haha
HapusMohon bimbingannya selalu pak 🙏🙏🙏
BalasHapus