Rabu, 01 Juli 2020

KIMIA KEBAHAGIAN DALAM MENGHADAPI ERA NEW NORMAL

Sabtu, 27 Juni 2020, saya mengikuti salah satu webinar yang diselenggarakan oleh Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar yang mengangkat tema tentang “Peran Kimia dan Strategi pembelajaran Kimia dalam Menghadapi Era New Normal”. Salah satu materi menarik yang dibawakan oleh Prof. Dr. Muh. Amir Masruhim, M.Kes, Dekan FKIP Universitas Mulawarman tentang peran kimia untuk meraih kebahagiaan dalam menghadapi era new normal. Menurut beliau dengan bahagia kita dapat terhindar dari bebagai macam penyakit, salah satunya penyakit yang diakibatkan oleh virus corona. Lebih lanjut beliau menjelaskan tentang salah satu zat kimia yang berperan penting sebagai pembawa kebahagiaan.  

Zat kimia yang dimaksud adalah hormon. Hormon adalah salah satu zat yang sangat berperan penting dalam tubuh manusia. Hormon dihasilkan oleh organ tubuh tertentu yang berasal dari kelenjar endokrin yang berguna untuk merangsang fungsi organ tubuh tertentu. Hormon memiliki peranan dalam mengendalikan proses yang terjadi dalam tubuh manusia seperti proses metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, dan kekebalan. Manusia adalah makhluk hidup yang bersifat multiseluler yang menghasilkan hormon.

Hormon menjalankan fungsi penting untuk kinerja tubuh mulai dari sistem reproduksi sampai mngendalikan suasana hati. Kebahagiaan bersumber dari banyak hal, salah satunya dari makanan yang di komsumsi. Dari makanan yang di komsumsi serta pola hidup sehat akan mempengaruhi kerja hormon di dalam tubuh. Diantara banyaknya hormon yang diproduksi oleh tubuh ada empat hormon yang dikenal dengan hormon kebahagiaan. Pertama, Hormon Dopamin. Hormon ini biasanya disebut “hormon penghargaan”. Hormon ini berkaitan dengan penghargaan terhadap diri, seperti pemberian motivasi. Hormon ini membuat seseorang merasa senang dan nyaman ketika berhasil memperoleh apa yang diinginkan atau dengan kata lain harapan sesuai dengan kenyataan, misalnya memenangkan suatu lomba, atau pekerjaan yang dilakukan mendapat pujian dari atasan dan hal-hal lain yang bisa membuat seseorang merasa bahagia.

Kedua, Hormon Endorfin. Hormon ini disebut “hormon penghilang rasa sakit”. Hormon ini dapat meredakan gejala stres, marah, sedih, depresi dan semua penyakit hati yang berhubungan dengan tekanan pada perasaan, sehingga membuat seseorang merasa tenang dan lebih mudah untuk mengontrol emosi. Menurut Dr. Shigeo Haruyama dalam Bukunya The miracle of Endhorphin, hormon ini dinamakan “Hormon kebahagiaan”. Hormon ini bereaksi sebagaimana morfin. Dia membuat seseorang merasa rileks, nyaman dan tenang. Jadi dapat dikatakan bahwa hormon endhorfin yang diproduksi oleh tubuh ketika manusia merasa bahagia. Endorfin itu seperti zat yang terkandung di dalam es krim atau coklat, dimana apabila kita mengkonsumsinya akan memberikan kenyamanan. Zat yang membuat nyaman ini juga diproduksi secara alami oleh tubuh guna untuk menstabilkan emosi. Hormon ini muncul saat seseorang merasa bahagia, senang dan mampu mengontrol emosi untuk berlapang dada atau selalu memiliki pikiran yang positif.

Ketiga, Hormon Serotonin. Hormon ini disebut “hormon kepemimpinan”. Hormon ini berkaitan dengan kepercayaan diri dan kebanggaan seseorang. Serotonin diproduksi oleh tubuh ketika seseorang berada di lingkungan dimana mendapatkan suatu dukungan, kepercayaan, pengakuan, dan kenyamanan. Hormon ini dapat membuat seseorang menjadi menyenangkan, mudah bergaul, dan ramah, namun ketika tubuh kekurangan hormon ini menjadi mudah marah, depresi, merasa cemas, kehilangan nafsu makan dan susah tidur.  Hormon ini sangat mengatur mood seseorang dalam segala aktifitas seperti selera makan, motivasi belajar, dan lain sebagainya. Serotonin tidak diperoleh seorang diri, melainkan didapatkan dengan membangun hubungan baik dengan manusia. Seseorang akan merasa lebih percaya diri ketika melakukan sesuatu yang membuat seseorang bangga terhadap dirinya, sehingga membuatnya merasa senang dan bahagia.

Keempat, Hormon Oksitosin. Hormon ini disebut “hormon cinta”. Hormon ini berperan penting dalam tingkah laku manusia. Hormon ini memberikan kebahagiaan kepada seseorang yang menjalin hubungan kepercayaan, kasih sayang dan persahabatan. Hormon ini didapatkan dengan melakukan kontak fisik dengan orang yang disayangi, menjalin ikatan dalam suatu hubungan atau dalam suatu komunitas. Misalnya hubungan antara anak dengan orang tua, dan hubungan antara suami dengan istri. Oksitosin juga dapat diperoleh dengan melakukan kebaikan kepada orang lain, misalnya aktif dalam kegiatan sosial, membantu orang yang mengalami kesulitan, menjadi relawan dalam kegiatan kemanusiaan dan sebagainya.

Agar keempat hormon tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik sehingga memperoleh suatu kebahagiaan, terlebih di era new normal, lebih lanjut  Prof. Dr. Muh. Amir Masruhim, M.Kes menjelaskan ada 5 dimensi yang perlu diperhatikan yaitu: Pertama, Dimensi Fisik. Untuk dimensi fisik secara garis besar dapat dilakukan dengan menjaga dan mengatur pola makan dengan rajin mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, berolahraga secara teratur untuk memperkuat otot, dan tidur yang cukup.

Kedua, Dimensi Pikiran. Untuk mengaktifkan hormon kebahagiaan harus selalu memiliki pikiran yang positif. Karena dengan berpikir positif akan menghindarkan diri dari berbagai penyakit. Karena menurut para ahli sumber penyakit terbesar bukan berasal dari makanan yang kita konsumsi melainkan bersumber dari pikiran. Ketiga, Dimensi Hati. Hati adalalah organ paling inti bagi kehidupan manusia. Hati ibarat raja, sedangkan anggota tubuh adalah prajuritnya. Bila rajanya baik, maka akan baik pula prajuritnya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, yang artinya sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Bila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Namun bila ia buruk maka buruklah seluruh tubuh. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (HR. Muslim). Keempat, Dimensi Rohani.  Berkaitan dengan spiritual manusia, hubungan manusia dengan Tuhan. Dimensi kelima adalah dimensi sosial, yang berkaitan dengan hubungan antar sesama manusia.

Jadi untuk memperoleh kebahagiaan terutama di era new normal, maka perlu mengaktifkan hormon kebahagiaan. Kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah swt dengan sebaik-baiknya bentuk. Setiap makhluk hidup ataupun benda tak hidup yang diciptakan di muka bumi ini terbuat dari susunan yang paling dasar yang disebut unsur kimia. Bahkan tubuh manusia tersusun dari berbagai unsur kimia dan terjadi proses kimia pada saat kita melakukan aktifitas seperti  makan, tidur, bekerja dan aktifitas-aktifitas lainnya. Dengan mengaktifkan keempat hormon tersebut adalah cara sederhana untuk memperoleh kebahagiaan. Karena hormon tersebut diproduksi secara alami di dalam tubuh manusia.

Dalam filsafat islam, tujuan tertinggi perjuangan manusia adalah mencapai kebahagiaan, yaitu transformasi manusia kepada pengabdian sepenuhnya kepada Tuhan. Hal tersebut akan menghasilkan kebahagiaan tertinggi seperti yang diajarkan oleh salah satu filusuf islam yang terkenal yaitu Imam Al-Ghazali. Menutup tulisan ini saya mengutip salah satu kata-kata bijak yang mengatakan “jagan pernah meletakkan kebahagiaan ditangan orang lain, karena kebahagiaan adalah milik anda”. Wallahu A’lam Bishawab.

 

Bone, 01 Juli 2020

(Rina Novianty)

16 komentar:

  1. Luar biasa Ibu ilmunya pagi ini

    BalasHapus
  2. Mantap de. Kebahagiaan adalah milik kita bukan orang lain. Tentukan hidup untuk diri dan untuk-Mu yg menciptakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali bu...cipatakan kebahagiaan tuk diri sendiri dan org lain😁

      Hapus
  3. Kebahagiaan itu diciptakan.bukan ditunggu...😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk mari ciptakan kebahagianπŸ˜‚πŸ˜

      Hapus
  4. Mantap tulisannya..sudah lama penulisnya ingin kembali ke rumahnya di kimia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rindu serindu2nya bu...hehe😁🀣

      Hapus
  5. Luar biasa bu

    Akhirnya dapat jawabannya tuk bisa bahagia d saat seperti iniπŸ˜„πŸ˜€

    BalasHapus
  6. excellent. sukses terus Bu Rina

    BalasHapus
  7. Bersama akan lebih bahagia ����

    BalasHapus

" MANUSIA SPBU "

Sabtu, 18 Juli 2020 saya mengikuti webinar Teras PPA yang diselenggarakan oleh PPA Institut, dengan tema " Manusia SPBU " yang di ...